Sang Ayah sahabat Anaknya

Oleh: Abu Zahlan Husain

JARANG sekali pemandangan yang terjadi mengisahkan keakraban antara seorang ayah dengan anak-anaknya, keakraban yang tulus ikhlas dilakukan jauh dari rekayasa, apalagi ada tendensi untuk tebar pesona. Sebaliknya potret kehidupan yang sering terjadi disekeliling kita, adalah seolah-olah ada hubungan yang tersekat, hubungan yang berjarak, bahkan hubungan yang kurang harmonis antara ayah dan anak-anaknya dengan berbagai dalih atau alasan yang dirasionalkan.
Hal demikian, tentu berbeda jika kita bandingkan hubungan psikologis antara sang ibu dengan anak-anaknya yang sedemikian hangat, akrab dan harmonis, jika kita telisik fakta akan berbicara bahwa mayoritas anak-anak tentu memiliki rasa lebih dekat lebih nyaman dengan ibunya, apakah karena faktor kelembutan, kesabaran, kedamaian, cinta dan kasih sayang yang dimililki dan dicurahkan oleh sang ibu kepada anak-anaknya.
Adalah Al-Aqra`bin Habits suatu hari menemui Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra, ia menemukan Umar ternyata sedang bermain-main dengan Anak-anaknya. Anak-anak Umar menempel di punggungnya dan Umar pun merayap. Al-Aqra` berkata: Wahai Amirul mu`minin, apakah seperti itu yang engkau lakukan bersama anak-anakmu setiap harinya? Umar pun bangun dan balik bertanya kepada Al-Aqra`. Apakah yang engkau lakukan saat engkau berada ditengah-tengah anak-anakmu dirumah? Al-Aqra` menjawab: Jika saya pulang ke rumah, anak saya yang sedang berdiri bergegas untuk duduk, anak saya yang sedang berbicara mendadak terdiam seketika, dan anak saya yang sedang tidur pulas mendadak bangun.
Wahai Amirul Mu’minin, saya mempunyai anak sebanyak 10. Namun tidak ada satupun yang pernah saya cium. Amirul Mu’minin berkata: Kalau begitu engkau tidak pantas menjadi pemimpin kaum muslimin. Maka Al-Aqra` diperintahkan oleh Umar untuk segera dipecat dari jabatannya sebagai Gubernur saat itu, karena tidak mencintai dan menyayangi anak-anaknya.
Saudaraku, Islam mengajarkan kepada kita hubungan yang sangat harmonis dan penuh pembelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan umat manusia. Hormatilah orangtua, sayangilah yang muda demikian pesan singkat Rasulullah SAW agar benar-benar dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian kita.
Suatu ketika Ali Bin Abi Thalib ra. menyusuri jalan menuju Masjid hendak berjamaah Subuh bersama Rasulullah SAW namun didepannya ada orangtua yang menggunakan ruas jalan yang sama menuju arah Masjid, Ali tidak mau mendahului jalan orang tua itu, meskipun Ali paham benar akan konsekwensinya kalau dia jelas akan terlambat bahkan akan tertinggal mengikuti jamaah Shalat subuh demi menghormati dan tidak mau menyalib orang tua tersebut.
Alhasil, ketika sudah hampir memasuki pintu pelataran Masjid rupanya orang tua itu tidak masuk Masjid, namun meneruskan langkahnya untuk menuju gereja, rupanya dia adalah seorang nasrani yang taat.
Ditengah perjalanan Ali berdo’a kepada Allah SWT untuk tetap diberikan kesempatan bisa berjamaah dan bermakmum dengan Rasulullah SAW. Do’a Ali rupanya dikabulkanNya meskipun Ali hanya bisa mengikuti rakaat kedua, yang Rasulullah SAW saat itu melakukan ruku’ lama sekali tidak seperti biasanya, sehingga para sahabat yang lain ketika Rasulullah SAW mengakhiri shalatnya dengan salam, kemudian sahabat menanyakan perihal lamanya ruku’ Rasulullah SAW tadi. Wahai Rasulullah, engkau ruku’ dalam shalat tadi lama sekali tidak seperti biasanya, apakah saat itu engkau sedang menerima wahyu dari Allah SWT ?.
Rasulullah SAW tersenyum mendengar pertanyaan sahabat yang mengikuti makmum dalam shalat tersebut, sembari menjawab: Tidak, saya tadi tidak menerima wahyu dari Allah, tetapi Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menaiki punggung saya, agar saya menunggu, dan tidak segera bangun dari ruku’ sebelum Ali datang bermakmum dengan saya. Subhanallah…ketawadhuan dan rendah hati Ali untuk menghormati orang yang lebih tua darinya, meskipun berbeda agama ternyata berbuah sangat manis, menjadi daya tarik dan perhatian tersendiri dari Allah SWT bagi Ali untuk diberikan kesempatan bisa berjamaah bersama Rasulullah SAW.
Selain itu, Rasulullah Muhammad SAW suatu ketika juga pernah berlama-lama dalam sujudnya ketika shalat. Sahabatpun bertanya usai shalat kepada Rasulullah SAW. Wahai baginda Nabi, engkau sujud lama sekali tidak bangun-bangun, gerangan apakah yang menyebabkan engkau memperlama dalam sujud tadi, apakah saat itu Allah SWT menurunkan wahyu kepadamu? Baginda Nabi menjawab, tidak! Saat itu saya tidak sedang menerima wahyu, akan tetapi disaat saya sedang sujud, tiba-tiba kedua cucuku hasan dan husain sedang menaiki punggungku, saya tidak segera bangun dari sujud sebelum cucuku puas menaiki punggungku.
Subhanallah, sangat luar biasa jika teladan dalam kisah singkat tersebut dapat kita praktekkan dan dapat kita refleksikan sungguh akan memberikan inspirasi bagaikan bola salju dalam keseharian kehidupan kita dalam berkeluarga, bermasyarakat yang akan berdampak luar biasa bagi pembanguna bangsa dan negara. Apakah sebagai seorang ayah kepada anak-anaknya, apakah seorang pimpinan kepada anak buahnya, apakah seorang majikan kepada pembantunya, ataukah seorang guru kepada para murid-murinya?
Realitas hubungan yang penuh cinta dan kasih sayang, hubungan yang harmonis tanpa sekat jarak yang menganga, hubungan yang penuh keakraban tanpa kuatir kehilangan wibawa dan harga diri, tentu akan mampu merobah peta kondisi sangat positif bagi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s