Bulan Madu dengan Bidadari

Oleh: Abu Zahlan Husain

DIMASA Rasulullah SAW syahdan hiduplah seorang pemuda yang sangat lugu dan polos sekali bernama Zahid usianya telah memasuki 35 tahun, tetapi masih melajang. Sehari-harinya tinggal di suffah Masjid Madinah, ketika sedang mengasah pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan berucap salam yang membuat Zahid kaget dan agak gugup dibuatnya.
Wahai saudaraku Zahid, aku perhatikan selama ini engkau masih membujang saja, apakah engkau tidak ingin segera berkeluarga, mengakhiri masa lajangmu?
Ya Rasulullah, aku ini seorang yang miskin, pengangguran, lagi pula wajahku jelek, mana ada wanita yang sudi denganku ya Rasulullah? kata Rasulullah, asal engkau mau saja, itu urusan yang tidak terlalu sulit Zahid.
Setelah itu, Rasulullah SAW menginstruksikan kepada sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya melamar kepada wanita bernama Zulfah binti Said, anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik rupawan.
Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid, oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut, yang diterima Said di depan rumah. Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia untukmu saudaraku. Said menjawab, ohya, adalah suatu kehormatan bagiku mendapatkan surat dari baginda Rasulullah SAW.
Sepertinya ada yang sangat istimewa dari surat itu, perlahan-lahan Said membuka dan membacanya dengan penuh ketelitian kata demi kata dipahami secara seksama. Ketika membaca surat tersebut, Said tersentak karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini dilakukan seorang bangsawan harus mendapatkan jodoh yang sepadan status sosialnya, itulah yang dinamakan kesetaraan.
Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, wahai saudaraku, betulkah surat ini datang dari yang mulia Rasulullah? Zahid menjawab, apakah saya layak berbohong kepadamu tuan? Dalam suasana yang agak memanas seperti itu, muncullah Zulfah dan berucap, wahai ayahanda, kenapa ayah tidak seperti biasanya, ayah kelihatan sedikit tegang terhadap tamu ini? bukankah akan jauh lebih mulia mereka dipersilakan masuk terlebih dahalu dan diajak duduk di ruang tamu?
Wahai anakku, seorang pemuda ini adalah yang sedang melamar engkau, bagaimana pedapatmu? kata ayahnya.
Disaat itulah Zahid melihat Zulfah sambil menangis sesenggukan berkata kepada ayahnya, wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku untuk dijadikan isterinya, namun aku enggan untuk menerimanya ayah.
Maka Said berkata kepada Zahid, wahai saudaraku, engkau tahu sendiri bukan? kalau anakku tidak mau engkau nikahi bukan aku yang menghalanginya, untuk itulah sampaikan berita tersebut kepada baginda Rasulullah SAW bahwa lamaranmu minta maaf tidak bisa diterima.
Mendengar nama Rasulullah SAW disebut ayahandanya, Zulfah sontak berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, wahai ayah, mengapa ayah menyebut nama Rasulullah SAW juga?
Ketahuilah anakku, yang memerintahkan Zahid untuk melamarmu adalah Rasulullah SAW. Maka Zulfah beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT sampai beberapa kali, serta menyesali sikapnya itu dan secara spontanitas berkata kepada ayahnya. Wahai ayah, mengapa sejak tadi tidak berterus terang kalau yang melamarku ini adalah atas instruksi baginda Rasulullah? Maka Zulfah bersikukuh memohon secepatnya kepada ayahandanya untuk menikahkan dengan Zahid.
Zulfah sangat kuatir jika teringat akan firman Allah SWT yang berbunyi: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, ketika mereka dipanggil Allah dan RasulNya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan: Kami mendengar, dan kami taat, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS. 24:51
Saudaraku, betapa riang dan berbunga-bunganya hati Zahid, seolah jiwanya melayang tinggi keangkasa raya, saat dihadapannya mendengar dengan kedua daun telinga sendiri, kalau keinginan Zulfah untuk segera dinikahkan dengannya.
Zahid sesampainya di Masjid, ia bersujud penuh rasa haru dan bersyukur kehadirat Ilahi. Melihat pemandangan itu, Rasulullah SAW tampak tersenyum geli melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.
Ditunggunya, sesaat Zahid bangkit dari sujudnya, Rosulullah SAW bertanya,
bagaimana Zahid apakah lamaranmu diterima? Alhamdulillah diterima ya Rasul, jawab Zahid. Kalau begitu untuk pernikahanmu nanti apakah sudah ada persiapan? Zahid sambil menundukkan kepala, tersipu malu sambil berkata: ya Rasul, kami tidak memiliki persiapan apa-apa.
Akhirnya Rasulullah SAW menyuruh Zahid untuk pergi ke Abu Bakar, Ustman
serta Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahannya. Dalam situasi dan kondisi yang nyaris bersamaan itulah, Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi penyerbuan kaum kafir yang akan menyerang orang-orang Islam. Ketika Zahid tiba di Masjid, dilihatnya bahwa para kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjatanya. Zahid pun bertanya-tanya, ada apa ini? para sahabat menjawab: Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mendengar, kalau Rosulullah SAW telah mengumumkannya tadi?
Zahid beristighfar beberapa kali sembari berkata, wah kalau begitu maka
sebaiknya aku urungkan niat untuk mempersunting gadis itu, semua perlengkapan nikah yang sudah aku beli ini akan aku jual kembali dan hasilnya akan aku belikan kuda yang terbagus untuk berperang.
Para sahabat mengingatkannya, wahai Zahid, bukankah engkau baru saja menikah dan tentunya nanti malam kamu akan berbulan madu, tetapi mengapa justru engkau ingin ikut berperang?
Zahid menjawab dengan tegas, itulah yang tidak mungkin aku dapat
melakukannya ketika Islam akan dihancurkan, justru aku bersenang-senang menikmati bulan maduku. Kemudian Zahid menyitir ayat sebagai berikut:
Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, ketimbang berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. QS. 9:24.

Akhirnya Zahid dengan gagah berani, berkuda dengan kecepatan yang tinggi,
penuh semangat membela Islam maju ke medan pertempuran, namun Allah SWT rupanya menentukan lain dan Zahid tersabet pedang lawan sehingga mati syahid di jalan Allah. Rasulullah SAW berkata: Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik dari pada Zulfah.
Kemudian Rasulullah membacakan ayat Al-Qur’an: Janganlah kamu mengira
bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rizki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak pula mereka bersedih hati 3 : 169-170
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah, bahwa mereka itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. QS. 2:154
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata,
Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia ini, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.
Subhanallah, sungguh mulia hati Zahid yang rela mengorbankan semuanya termasuk meninggalkan calon isterinya, demi berperang di jalan Allah, semoga kita dapat menginspirasi dari kisah diatas dan mudah-mudahan kita dapat diijinkan untuk mati di jalan Allah dengan tetap membawa bekal Iman yang teguh, Islam yang kuat dan Khusnul Khatimah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s