USIA KITA UNTUK BERBUAT APA SAJA ?

Oleh:

Abu Dliyaulhaqq

Kajian Firman Allah SWT
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِيْ فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ (الأحقاف : ۱٥)

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, serta untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak-cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri..” al-Ahqaf (QS 46:15)
Ayat di atas adalah do’a sebuah ungkapan kesadaran akan hakikat dan makna hidup yang diajarkan Allah SWT kepada manusia bila kita telah mencapai usia 40-an tahun.
Inilah do’a sarat makna yang penuh keterbukaan dan kesadaran akan peran masa lalu (orang tua), masa kini (diri kita sendiri), dan harapan masa depan (anak-cucu kita).
Inilah do’a mohon keselamatan setelah kita semua menjalani hidup dan kehidupan di dunia fana ini, hingga cukup bekal pengalaman serta berkesempatan untuk menata ulang setelah melihat tantangan proyeksi dirinya di masa depan.
Inilah do’a penuh harapan, sarat pinta dan permohonan, penuh kesyukuran, dan penuh pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk, sepenuh jiwa raga, sepenuh cinta dan berharap ridho Allah SWT oleh siapa pun yang punya kesadaran akan usia, posisi, peran, peluang, serta hakikat kehidupannya.
Sungguh ketika seseorang telah menapaki usia yang ke-40 tahun, sudah semestinya telah sampailah ia pada fase kearifan hidup. Puncak fase fisik sudah dilampauinya, beragam pengalaman duka dan senang tentang kehidupan sudah dialaminya, derita dan bahagia sudah dijalaninya, ujian, cobaan kehidupan sudah sedemikian transparan untuk membuka tabir bagi mata batinnya yang masih tertutup oleh silaunya gemerlap dunia.
Pada usia ini, seseorang sudah bisa mengukur secara tepat peluang dan tantangan, kekuatan dan kelemahan dirinya, tinggallah kemudian mana pilihan jalan yang akan diteruskanya untuk menuju jalan yang dikehendakiNya.
Persoalan kehidupan sudah semakin kelihatan terang benderang di depan mata, fasenya bukan lagi fase melanjutkan permainan semu dan coba-coba, melainkan fase kesungguhan untuk meniti kearifan hidup sebagai mestinya. Bukankah bagi seorang yang beriman meyakini bahwa kehidupan akhirat lebih utama dari pada kehidupan dunia ?
Para Mufassir ada yang menyebutkan bahwa do’a seperti pada ayat di atas diucapkan oleh Abu Bakr As-Shidiq ra ketika kedua orangtuanya menyatakan masuk Islam. Dan, do’a itu masih dilantunkannya setiap hari hingga seluruh anggota keluarga Abu Bakr yang lain masuk Islam. Sedangkan oleh Talhah bin Masyraf kepada Abu Ma’syar ketika dia mengadukan kenakalan anaknya agar anaknya menjadi orang-orang sholeh dan sholehah.
Dua kata kunci pada do’a ini adalah ‘syukur’ dan ‘taubat’. Hakikat syukur adalah penegasan pengakuan diri akan nikmat dan karunia Allah SWT yang telah diterimanya serta ungkapan rasa terima kasih kepada Allah atas segala kebaikan-Nya. Sementara inti tobat adalah saling ‘berbuat kebaikan’ antara manusia dengan Allah. Dimulai dari manusia yang ‘berbuat kebaikan’ dengan penyesalan kemudian dibalas oleh Allah ‘berbuat kebaikan’ dengan pengampunan dan pemberian rahmat-Nya serta manusia bertobat lantas Allah mengampuninya. Inilah hubungan yang sangat mesra dan bermakna hakiki antara seorang hamba dengan TuhanNya.
Di Era informasi dan teknologi seperti sekarang ini, ketika tantangan dan godaan hidup tidak lagi ringan, sudah selayaknya kita melakukan ikhtiar lahir batin secara sungguh-sungguh.
Mudah-mudahan dengan laku syukur dan laku taubat, seluruh keluarga kita bisa selamat meniti jalan hidup dan kehidupan, menapaki kehidupan duniawi sehingga bisa tetap dapat mempertahankan keimanan, keislaman yang kaffah dan khusunul khotimah. Amin.
Untuk itu saudaraku semua, mari bersama kita renungkan perjalanan kehidupan kita di persinggahan yang hanya sementara ini ibarat hanya mampir ke pasar, hari berganti hari, waktu terus berputar yang berarti kian mendekatkan hidup kita kepada kematian.
Di dunia ini kita hanya mampir untuk sementara waktu, untuk bekerja keras dan beribadah sebaik-baiknya dan mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya, sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat kelak. Bukankah sudah banyak pelajaran berharga di sekitar kita, orang yang hidup sebelum kita, yang kini mereka kembali ke asal, menjadi tulang belulang.
Di depan kita, sudah banyak generasi muda yang kini hidup untuk menggantikan kita. Lalu kita mau ke mana, mau ke mana, kita pasti mati, mati adalah tempat mutasi kita yang terakhir, untuk persiapan kebangkitan kehidupan yang abadi.
Kita pasti akan diminta pertanggungjawaban terhadap semua apa yang telah kita lakukan. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki tak akan bisa menolak kematian kita. Sehebat apa pun kekuasaan yang kita miliki, tak mungkin akan bisa menghalau, mengundurkan atau memajukan kematian walau satu detik pun.
إلهي آنت مقصودي ورضاك مطلوبي آعطني محبتك ومعرفتك

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s