Puasa dan Kelembutan Hati

Oleh :

Abu Zahlan Husain

KELEMBUTAN hati, atau Lathifatul Qolbi adalah menggambarkan suatu kondisi hati yang sangat bening, berkilau, memancarkan cahaya penuh kearifan yang dimiliki oleh manusia. Dalam ajaran tasawuf atau tariqat, upaya untuk mendapatkan hati yang bening, lembut, berkilau tersebut, seseorang harus mau belajar noto ati, yakni sebuah proses pembelajaran yang panjang tak berkesudahan tentang pentingnya memenej jiwa atau nafs. Mengapa dikatakan penting? Karena jiwa ini bersinergi erat dengan sebuah keyakinan seseorang. Seperti yang dikatakan syaich Abdul Qodir Al-Jilani: Man arofa nafsahu fa qod arofa robbahu, wa man arofa robbahu fa qod arofa kulluhu, yang artinya: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barang siapa mengenal Tuhannya, maka ia akan mengenal seluruhnya.
Statemen Al-Jilani tersebut, memberikan pembelajaran sangat penting kepada kita semua, bahwa siapa saja yang mengetahui potensi kelebihan sekaligus kekurangan dirinya, sejalan dengan munculnya sebuah kesadaran baru, dia akan mengetahui esensi kemuliaan, kearifan, keagungan, kekuasaan, kemahatahuan, dan kemahahebatan Tuhannya.
Pentingnya pengetahuan untuk mengetahui hakikat diri manusia, dipertegas dalam Al-Qur’an: Dan barang siapa yang buta hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat nanti ia akan lebih buta pula, dan lebih tersesat dari jalan yang benar. Q.S: Al- Israa’ : 72
Saudaraku, sifat kelembutan hati merupakan salah satu akhlak mulia yang selalu diteladankan oleh nabi Muhammad SAW seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar: Sesungguhnya, saya menemukan sifat Rasulullah SAW dalam kitab-kitab terdahulu itu demikian : Tutur katanya menyejukkan, hatinya tidak keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar, dan tidak suka membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang sama, namun dia memaafkan dan mengampuninya. Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 608
Nabi Muhammad SAW, sosok manusia pilihan yang memiliki kelembutan hati, meski beliau dikatakan gila, dilempari kotoran, dan mendapatkan perlakuan keji lainnya. Pernah ada seorang laki-laki yang apabila nabi lewat di depan rumahnya, mereka selalu meludahi nabi, terus begitu setiap harinya, suatu saat, nabi lewat lagi di depan rumahnya seperti biasa, namun beliau terheran-heran perjalanan beliau kali ini kok aman-aman saja, tidak ada yang meludahinya lagi. Maka seusai berjamaah salat Subuh, rasul menyempatkan bertanya kepada sahabatnya, wahai sahabatku tahukah kalian tentang seseorang yang biasa menggangguku? salah seorang sahabat mengatakan laki-laki itu sedang sakit ya rasul ! Subhanallah, sedang sakit ? maukah diantara kalian menemaniku untuk menjenguknya? nabi Muhammad bertandang ke rumah laki-laki pengganggu itu, bukan memanfaatkan momentum untuk membalas perbuatan jahatnya, tetapi untuk menjenguk, membawakan sepotong roti, menghibur dan mendoakan agar cepat sembuh, demikian akhlak yang dilakukan oleh beliau, sehingga yang bersangkutan tertarik masuk agama Islam karena akhlaq yang begitu mulia dari rasulullah SAW.
Saudaraku, nabi Muhammad bukanlah tipe manusia yang mudah marah jika dihina, beliau bukan pula sosok pendendam, beliau hanya marah jika seseorang menghina kepada Allah.
Suatu hari, disaat beberapa sahabat sedang larut dalam kekhusyukan mendengarkan wejangan dari baginda nabi Muhammad SAW di masjid Nabawi, tiba-tiba seorang arab badui masuk masjid dan tanpa ragu-ragu dia langsung buang air kecil di salah satu pojok ruang masjid, para sahabat yang melihat kelakuan arab badui yang tidak tau diri itu sangat terkejut dan segera berdiri hendak memukulnya, namun melihat gelagat para sahabat tersebut, nabi Muhammad secara spontanitas segera mencegah tindakan anarkhis itu. Para sahabat pun kemudian membiarkan arab badui tadi menuntaskan buang hajatnya, setelah benar-benar tuntas, nabi Muhammad SAW meminta tolong seorang sahabat mengambil beberapa ember air untuk mengguyur tempat yang dikencingi arab badui itu.
Dengan sesungging senyum yang memancarkan cahaya kasih sayang, tanpa ada rasa marah dan kesal sedikitpun nabi SAW menghampiri arab badui itu dan menyampaikannya: Saudaraku, sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk dikencingi dan dikotori, masjid ini merupakan tempat untuk shalat, beribadah, berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an. ( HR. Muslim ). Nabi Muhammad SAW sangat memahami ketidakmengertian si arab badui tersebut, sehingga kelembutan hati beliau lebih menonjol dari pada amarah beliau. Sebuah pemandangan yang terlalu sulit untuk dibandingkan, andai kata hal itu terjadi di saat ini, maka si arab badui itu tentu sudah babak belur di “massa” atau setidak-tidaknya akan mendapatkan umpatan kata-kata yang tidak senonoh dari para jamaah masjid.
Nabi Muhammad SAW juga dikenal memiliki sikap yang sangat halus, ramah, beliau tidak pernah marah kepada pembantu rumah tangganya. Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, mengatakan: Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun, belum pemah sekalipun berkata kasar kepadaku. Dan selama sepuluh tahun itu, tidak pernah beliau berkata kepadaku: Mengapa kamu melakukan hal ini? Dan belum pernah pula beliau mengatakan, mengapa engkau tidak melakukan sesuatu sepeninggalku?.
Kurun waktu sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek, dan selama itu pula Anas bin Malik belum pernah mendapatkan perlakuan kasar atau dimarahi Nabi SAW. Hal demikian, tentu berbanding terbalik dengan kondisi sekarang ini, seperti yang sering kita saksikan dalam tayangan TV maupun tulisan di media cetak, para TKW yang bekerja di negeri orang, maupun pembantu yang bekerja dinegerinya sendiri, tidak jarang mereka dianggap oleh sebagian majikan sebagai “orang rendahan” yang dapat diperlakukan dengan semena-mena oleh majikan, tenaganya diperas habis, jam kerja yang panjang, kesejahteraan yang diterima jauh dibawah standar UMR, terkadang hari libur pun masih tetap diharuskan bekerja. Kondisi seperti itulah yang harus segera disudahi, pembantu adalah mitra kerja, bukan pelayan, pembantu yang jelas-jelas manusia, jangan sampai nilai kemanusiaannya tercerabut sedemikian rupa, hanya karena perbedaan strata sosial, naudzu billahi min dzalik, karena hakikatnya tidak ada seorangpun lahir kedunia ini yang bercita-cita ingin menjadi pembantu, kalau toh akhirnya perjalanan hidup seseorang menjadikan ia sebagai pembantu, itu karena keterpaksaan dan belum menemukan pilihan lain.
Saudaraku, jika hal demikian ini, masih sering kita temui bisa jadi akibat telah hilangnya kelembutan hati seseorang, sehingga rasa kesal, emosi mudah sekali terluapkan, buruk sangka akan mudah lahir pada setiap kondisi, laporan ABS ditelan mentah-mentah, rasa terima kasih dan kata maaf kepada pembantu berat sekali terucapkan, sehingga upaya memanusiakan manusia sesuai harkat dan martabatnya menjadi ironi, di saat seperti itulah syetan dengan leluasa masuk melalui peredaran darahnya untuk memprovokasi agar melakukan perbuatan yang tercela, bengis, tidak manusiawi, hatinya menjadi keras membatu, sulit menerima masukan orang lain.
Saudaraku, puasa ramadhan kini telah hadir ditengah-tengah kita, bisa jadi ini karena doa yang kita mohonkan kepada Allah SWT terkabulkan. Bukankah saat bulan rajab datang kita berdoa: Allahumma bariklana fi rojaba wa sya’bana waballighna ramadhan, Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan bulan sya’ban serta sampaikanlah (sempatkanlah) kami berjumpa dengan ramadhan.
Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, maghfiroh dan itqun minannar. Bisa jadi ramadhan tahun ini menjadi ramadhan terakhir bagi kita, maka senyampang kesempatan tersebut masih diberikan Allah kepada kita, tentu harus kita manfaatkan kesempatan tersebut seoptimal mungkin untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah dengan cara peningkatan kualitas amal ibadah, keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW saat bulan ramadhan tiba beliau sangat senang, sebaliknya ketika ramadhan akan berlalu beliau sangat sedih sekali. Pada bulan ramadhan beliau sangat intens ibadahnya, kepedulian kepada sesamanya luar biasa, sampai-sampai ketika seseorang berkata atau mengajak melakukan perbuatan maksiat disuruhnya menjawab “sesungguhnya aku berpuasa” betapa mulianya karakter beliau, sehingga umatnya diharapkan bisa meneladani sifat-sifat tersebut, agar manusia bersimpati kepada kita, dan Allah SWT pun akan mencintai dan menyayangi kita. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. HR. Muslim.
Berbekal keikhlasan, kearifan, uswah hasanah, seorang guru akan dicintai murid-muridnya, seorang ulama akan diikuti nasehat dan pencerahannya, seorang bos akan dihormati dan disegani oleh anak buahnya, seorang suami akan dirindukan oleh isteri dan anak-anaknya, dan seorang pemimpin akan didukung serta dicintai oleh rakyatnya. Semoga puasa ramadhan yang kita lakukan ini mampu membingkai karakter kepribadian kita penuh kelembutan, penyayang dan toleran kepada sesama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s