Dialog Tukang Cukur dari Blora ( Sebuah Refleksi Masyarakat Samin )

Oleh

Abu Zahlan Husain

SEORANG pelanggan setia kang Marzuki datang ke tempat tukang cukur lamanya, sebut saja kang Imam namanya untuk memotongkan rambut dan merapikan kumis serta jenggot brewoknya yang menggantung laksana sekumpulan lebah madu.
Kang Imam si tukang cukur asli dari daerah samin Blora, memang sudah menekuni profesinya sejak pemerintahan orde baru masih berkuasa, kalau soal cukur mencukur, tidak seorang pun meragukan kepiawaiannya.
Saat hendak mulai memotong rambut pelanggannya, kang Imam tidak lupa membaca basmalah, baginya basmalah sesuai keyakinan agama yang dianutnya menjadi keharusan agar setiap pekerjaan yang dilakukannya berbuah ibadah dan rejeki yang ia dapatkan bertambah berkah.
Sambil memainkan gunting di atas kepala kang Marzuki, tidak berselang lama terdengarlah kang Imam mulai terlibat pembicaraan yang hangat dan terlihat sedikit serius dengan kang Marzuki.
Mereka berdua laiknya pengamat politik papan atas, dengan sangat gayeng ngobrol ngalor ngidul tentang topik aktual yang lagi ramai menghiasi media cetak maupun media elektronik.
Dibelahan bumi dunia dan di negara manapun, dalam disiplin ilmu politik berlaku kaidah “ tidak ada kawan dan lawan abadi “, karena yang abadi hanyalah sebuah kepentingan. Politik itu artinya “ poool menggelitik “ demikian kata kang Imam menceramahi kang Marzuki yang lagi di potong rambutnya.
Sesaat kemudian, kang Imam yang merupakan jebolan dari Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama saat itu, maka topik pembicaraan pun beralih tentang Tuhan. Kang Imam bilang, saya tidak percaya jika Tuhan itu ada. Betapa kagetnya bukan kepalang kang Marzuki mendengar ucapan kang Imam, yang tidak disangka-sangka keluar dari mulutnya, kalau Tuhan itu dikatakan tidak ada. Kenapa kamu berkata begitu kang ? timpal kang Marzuki kepada kang Imam. Begini kang Marzuki, coba ente perhatikan dengan seksama di depan sana, di jalan raya, agar ente percaya… kalau Tuhan itu memang benar-benar tidak ada.
Nanti setelah mengadakan pengamatan yang serius, katakan kepadaku, jika ente masih berkeyakinan Tuhan itu ada. Menurutku, Tuhan itu memang tidak ada, karena jika Tuhan memang ada, kenapa masih banyak pengguna jalan yang ugal-ugalan?, mengapa mereka tidak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas?, kenapa tidak memakai helm, tidak memiliki SIM, STNK, kenapa tidak juga mengenakan sabuk pengaman, tidak melengkapi kendaraannya dengan berbagai kelengkapan berkendara, sehingga akan menyelamatkan diri dan orang lain? Coba perhatikan lagi, betapa masih banyak kendaraan yang mengeluarkan suara dari knalpotnya yang memekakkan telinga, dan itu bisa menyebabkan orang lain terusik kenyamanannya. Jika Tuhan ada, sudah pasti Tuhan tidak akan membiarkan semuanya itu terjadi kang!.
Kang Marzuki diam seribu bahasa sambil berpikir keras, tetapi tidak segera merespon karena dia tidak ingin memulai berdebat dengan kang Imam yang menurutnya mungkin lagi stres alias kenthir, karena seharian baru memotong rambut seorang saja, yaitu kang Marzuki. Setelah kang Imam menyelesaikan pekerjaannya, maka kang Marzuki pergi meninggalkan tempat si tukang cukur, sambil mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dan ucapan terima kasih, kang Marzuki terus berfikir mengapa kang Imam sekarang berobah drastis pikirannya, seperti telah tertular virus liberalisme dan sekularisme ?.
Tidak berselang lama, setelah kang Marzuki meninggalkan ruangan tukang cukur beberapa langkah, dia melihat ada orang di jalanan dengan rambut gimbal yang panjang, berjenggot menjuntai ketanah, berpakaian compang camping, tidak terawat dan kelihatan lusuh serta kotor sekali, kumis dan jenggotnya yang memulai memerah dan tampak awut-awutan yang sudah beberapa tahun tidak pernah dirapikan.
Kang Marzuki bergegas kembali menghampiri kang Imam yang sedang menunggu pelanggan lain, untuk mencukurkan rambutnya. Kata kang Marzuki kepada kang Imam, coba ente lihat juga di jalan itu kang ada orang berambut gimbal, panjang, kotor dan tak terawat sama sekali. Saya juga akan katakan bahwa ternyata si tukang cukur, yaitu ente berarti adanya sama dengan tidak adanya.
Kang Imam sebagai tukang cukur profesional tentu tidak terima, ente kok bisa memiliki natijah (kesimpulan) begitu?. saya kan dari tadi disini, dan siapapun akan bersepakat mengatakan kalau saya adalah tukang cukur, lagi pula bukankah barusan saya juga telah mencukurmu?.
Tidak…! sanggah kang Marzuki. Tukang cukur itu tidak pernah ada, sebab jika ada, tidak mungkin akan ada orang dengan rambut panjang, gimbal yang lusuh dan kotor bebas berkeliaran di jalan dan mengambil sisa makanan dari tong sampah seperti orang itu, kata kang Marzuki memberi penguatan terhadap argumentasinya.
Kang Imam bersikukuh, tukang cukur yaitu saya, tetap ada. Apa yang ente lihat itu, sesungguhnya adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak mau datang ke tempat saya untuk mencukurkan rambutnya, jawab kang Imam membela diri.
“Sepakat!” kata kang Marzuki menyetujui alasan kang Imam. Itulah sebenarnya persoalan utama dialog kita kang!. Keberadaan tukang cukur itu diibaratkan sama keberadaannya dengan adanya Tuhan, Tuhan itu juga ada, dan sampai kapanpun Tuhan pasti ada. Tetapi, apa yang terjadi di sekitar lingkungan kita, tidak sedikit diantara kita, ketika sedang berada di jalan raya dan di tempat-tempat umum yang lain, bahkan di tempat sepi sekalipun banyak manusia sudah tidak menyadari tentang keberadaan Tuhan, sehingga sering terjadi pelanggaran dalam berlalu lintas, masih banyak pula orang yang menyalahgunakan wewenangnya untuk memperkaya diri dan kelompoknya, tidak sedikit orang yang melalaikan dan menganggap agama itu tidak penting, agama adalah urusan para ustadz, dai dan para kyai, sehingga eksistensi Tuhan telah tercerabut dari kepala dan dadanya, akhirnya substansi otak dan hatinya di penuhi oleh hawa nafsu yang dikendalikan oleh setan, naudzu billahi min dzaalik.
Saudaraku, Allah SWT Tuhan yang telah menciptakan jagat raya ini, memang harus kita cari dan kita temukan. Saat diri kita mampu menemukan Tuhan, maka kita akan dengan mudah untuk mengenalinya, bagaimana cara Dia mengawasi kita, menjaga kita, menyayangi kita, menolong kita, menyembuhkan penyakit kita, dan segala campur tanganNya bagi semua perjalanan kehidupan diri kita, tentu akan dengan mudah pula dapat kita merasakannya.
Lalu, kemana kita harus mencari Tuhan dan bagaimana cara kita mencariNya ?
Nabi Ibrahim AS mencari Tuhan lewat kajian mendalam terhadap fenomena alam semesta, memperhatikan peredaran Matahari dan planet lain yang disangkanya sebagai Tuhan, tetapi karena semuanya sirna, maka Ibrahim AS berkesimpulan semunya itu tidaklah pantas dijadikan sebagai Tuhan.
Demikian pula, seiring bergulirnya waktu Nabi Musa AS yang mendaki puncak gunung Thursina sampai 40 malam lamanya, mencari dan mengharap sebuah kepastian akan perjumpaan akan eksistensi Tuhan semesta alam. Siti Hajar pun selaku istri Nabi Ibrahim AS berlarian bolak balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shofa-Marwa mencari dan merindukan akan mata air Tuhan, lalu menemukan sumber mata air Zam-zam yang mengalir untuk mensucikan dan memberikan minum bagi diri dan anaknya bernama Ismail AS yang baru saja dilahirkannya.
Teladan dan panutan kita Nabi Muhammad SAW selama berbulan-bulan bertahannus di Goa Hira, mencari eksistensi Tuhan untuk menjawab kegalauan hatinya atas kondisi masyarakat Arab saat itu, yang semakin akrab dengan budaya jahiliyyah.
Karena upaya kontinuitas yang dilakukan oleh para rasul dan figur yang menjadi inspirasi dalam berbagai aspek keteladanan tersebut, serta kesungguhan akan lahirnya sebuah kesadaran dan paradigma baru, betapa lemahnya diri manusia ini dihadapan Sang Khaliq dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupannya, maka Tuhan pun memperkenalkan dirinya. “ Engkau dekat, Aku dekat, engkau jauh, Aku pun jauh “.
Saudaraku, rasul adalah manusia sama seperti kita, pembedanya rasul menerima wahyu dan menyampaikan kepada ummatnya, sedangkan kita bisa menerima hikmah dari Allah SWT. Sebenarnya kitapun sama memiliki potensi mampu menemukan dan mengenali Tuhan sebagaimana para rasul mencari dan menemukan Tuhan, Caranya ?
Kita ambil contoh, untuk membuat sebuah proyek pelatihan secara istiqamah dari hal yang menurut ukuran kita mampu dilakukannya, kemudian kita buat target pencapaiannya, kuncinya sungguh-sungguh dalam melaksanakan proyek pelatihan tersebut, kemudian kita majukan permohonan kepada Tuhan lewat munajat di sepertiga malam dan pada sebagian besar hari-hari yang kita jalani, maka lihatlah dan rasakanlah bagaimana cara Tuhan membimbing, menolong dan menunjukkan kepada kita menuju target pencapaian yang telah kita tetapkan, bisa jadi hasilnya jauh melampaui Goal Target yang telah kita tetapkan sebelumnya.
Bukankah Allah SWT berfirman: Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan TuhanMu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. QS. Al-Isra: 79.
Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua ke jalan yang lurus, jalan yang diridhaiNya. Amiiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s