SUNGKEMAN, HBH DAN OPEN HOUSE

Oleh:

Abu Zahlan Husain Vica *)

TERMINOLOGI Halal bihalal merupakan bentuk ungkapan spesial pada waktu dan tempat tertentu, sebagai bagian dari ibadah yang bernilai sosial, yaitu silaturrahim. Jika kita menelisik dalam konteks tarikh Islam, sejak era Rasulullah SAW, sahabat, para tabi’ dan tabi’ tabi’in, kita tidak akan mendapati istilah halal bihalal, kecuali hanya silaturrahim. Penggunaan istilah ini masih menuai kritik dari sisi bahasa, terlepas betul tidaknya pemakaian istilah halal bihalal, yang jelas sudah terlanjur menjadi khazanah perbendaharaan kata bagi ummat Islam di Indonesia yang memiliki nilai kesejarahan tersendiri.
Mencuatnya istilah halal bihalal dari sisi historis ditengarai terdapat beberapa versi. Sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta seperti yang diungkapkan sejarawan DR. Umar Kayam menyatakan bahwa, tradisi halal bihalal pertama kali dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang bergelar Pangeran Sambernyawa dengan budaya “sungkeman”. Demi efektivitas dan efisiensi, baik menyangkut tenaga, pikiran, dan pendanaan, maka umat Islam seusai melakukan salat Idul Fitri, diadakanlah sungkeman yang dikemas sedemikian rupa sesuai tradisi di Keraton. Forum pertemuan tahunan antara raja dan permaisuri bersama para punggawa dan prajurit dihelat secara serentak di balai istana, sebagai wujud pengabdian, kesetiaan, cinta dan kasih sayang.
Sementara itu, versi lain mengungkapkan bahwa, inisiator istilah halal bihalal adalah Khadrotus Syaich Romo KH. Wahab Chasbullah Pendiri NU sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Konon setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia diterpa problema disintegrasi bangsa, karena para elit politik saat itu sulit menyatukan visi, dan saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu meja perundingan, sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, dan pemberontakan G 30 S PKI Madiun.
Untuk itulah, pada tahun 1948 di pertengahan bulan Ramadan, Bung Karno selaku Presiden RI ke 1 memanggil KH. Wahab Chasbullah agar hadir ke istana negara, untuk dimintai fatwanya dalam rangka mengurai situasi politik Indonesia yang sudah tidak kondusif dan kacau balau. Kemudian kyai Wahab memberi advis kepada Bung Karno agar menggelar acara silaturrahim, dengan pertimbangan karena sebentar lagi akan memasuki Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim. Lalu Bung Karno menjawab, “ Pak kyai, silaturrahim kan sudah biasa kita lakukan, saya ingin ada istilah yang lain, pak kyai”.
“Oh… itu masalah gampang sekali pak Presiden”, Ujar kyai Wahab. Begini, jika para elit politik masih tidak mau akur, itu karena mereka saling menyalahkan dan mencari pembenaran sendiri. Saling ngotot itu kan tidak baik dan bisa merenggangkan hubungan kebangsaan, serta dapat berakibat melahirkan dosa. Padahal dosa itu hukumnya haram. Nah supaya mereka dosanya diampuni oleh Allah SWT, kita buatkan mediasi untuk saling maaf memafkan atau saling halal menghalalkan satu sama lain, caranya mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga agenda silaturrahim nanti kita pakai istilah baru halal bihalal, terang kyai Wahab.
Dari nasehat kearifan kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri itu, merasa legowo dan kemudian mengundang seluruh tokoh lintas politik dan agama untuk datang ke istana negara guna menghadiri silaturrahim yang dikemas dengan titel ‘Halal bihalal’ dan akhirnya mereka bisa duduk bersama dalam satu meja, sebagai episode baru untuk menggalang kekuatan dan persatuan bangsa Indonesia.
Adapun secara etimologis kata halal berasal dari kata halla atau halala yang mempunyai berbagai bentuk dan pemaknaan sesuai dengan rangkaian kalimatnya. Prof. DR. M. Quraish Shihab, Ketua Dewan Pakar Pusat Study Al-Qur’an, mengungkapkan bahwa makna-makna tersebut antara lain adalah: menyelesaikan problem atau kesulitan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku, atau melepaskan ikatan yang membelenggu.
Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari berbagai elemen warga masyarakat. Karena dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antar masyarakat menjadi lebih harmonis, keakraban terjalin dan suasana kekeluargaan benar-benar dapat dirasakan.
Disamping itu, tradisi halal bihalal mempunyai dampak positif bagi terwujudnya kerukunan, solidaritas, kesetiakawanan sosial dan keakraban antar warga masyarakat, maka sepatutnya tradisi halal bihalal harus dilestarikan dan dibingkai lebih bagus lagi sehingga lebih bermakna, terlebih lagi pada dekade akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik horizontal, krisis multidimensi berkepanjangan yang disebabkan salah satu faktor penyebabnya karena terjadinya krisis silaturrahim dan keteladanan, minimnya intensitas budaya silaturrahim akan membuka kran lahirnya konflik kepentingan, bahkan juga persoalan yang sangat sepele dapat menjadi sumbu penyulut meletusnya gesekan-gesekan di masyarakat.
Bersilaturrahim yang kita lakukan pasca Idul Fitri, sesungguhnya merupakan refleksi dari pembentukan karakter di saat seseorang menjalankan ibadah puasa, sehingga orang yang saling menjalin silaturrahim dalam keadaan suci, sadar dan ikhlas untuk saling memaafkan dalam kerangka mengharmonisasikan hubungan yang telah kusut, ternodai, dan terjadi jarak karena kesalahan yang pernah diperbuat sudah tanpa lagi mengungkit-ngungkit kesalahannya, mereka dengan rela saling menjulurkan tangan, saling meminta maaf dengan sesungging senyum yang mengembang, meskipun pada hakikatnya Islam mengajarkan apabila seseorang berbuat salah kepada yang lain harus segera saling maaf memaafkan, tidak harus menunggu kehadiran momentum Idul Fitri.
Halal bihalal seperti yang biasa kita lakukan selama ini, sungguh akan terasa lebih bermakna manakala puasa yang dilakukan benar-benar sempurna dan mampu meraih tujuan utama dari disyariatkannya puasa, yaitu meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Kesadaran akan tujuan inilah yang akan mendukung pelaksanaan puasa guna membentuk kepribadian yang sebelumnya mati suri kemudian memiliki kepekaan yang tajam dalam memperoleh bekal lahir maupun batin.
Semua itu tentu terkait, bahwa amal dan peribadatan seorang hamba tidak akan mencapai kualitas sempurna, jika hanya mementingkan habblun minallah tetapi meniadakan hablun minannas, yakni memperbaiki hubungan silaturahim dengan sesamanya.
Keberadaan halal bihalal dipahami sebagai suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan ramadan telah berhasil berjibaku melawan nafsu syetani. Pesta kemenangan lebaran setiap idul fitri ini layak disandang bagi umat Islam yang telah menjalani puasa Ramadan yang dilandasi keimanan dan ihtisaban dalam meraih derajat manusia taqwa yang tidak terbatasi ruang dan waktu.
Saudaraku, esensi sungkeman, halal-bihalal, open house, atau apalah istilah yang akan digunakannya, pesan moral universal yang dapat kita tangkap adalah jalinan yang sangat indah akan adanya benang merah untuk selalu menjaga tali silaturrahim, perintah untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, suka tolong menolong, mudah memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang kepada sesama akan tetap aktual dalam konteks dan perspektif keduluan, kekinian dan kenantian.
Selamat beridul fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s