SEBUAH KESOMBONGAN

Oleh :

Abu Zahlan Husain *)

DALAM suatu riwayat seorang sahabat pernah mengajukan pertanyaan kepada nabi Muhammad SAW. Wahai baginda nabi, apakah jika ada seseorang yang dalam kesehariannya berpenampilan trendi ( baju dan sandalnya ) bagus, termasuk sombong ? Nabi menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Jika dari jawaban singkat tersebut, kita telaah secara kritis, sebenarnya mempunyai makna yang teramat dalam. Dikarenakan, yang dimaksud kesombongan bukanlah terletak pada penampilan seseorang dengan berbagai asesoris yang melekat pada dirinya, apakah menyangkut pakaian, perhiasan, mobil, rumah, tanah, hewan piaraan, investasi harta yang dimiliki, atau dengan berbagai simbol keberhasilan yang mereka raih dalam hidupnya. Namun, kesombongan itu lebih bersifat pembangkangan seseorang terhadap agama dan moralitas. Artinya sepanjang apa-apa yang dimilikinya itu diperoleh dengan cara yang dibenarkan agama, tetap bersikap santun dan bersahaja, bukan sengaja berpenampilan secara demonstratif dan tidak merugikan kepada sesama, tentu tidaklah dapat dikatakan sombong.
Sedangkan Allah itu indah dan menyukai keindahan, seharusnya dimaknai dengan interpretasi yang luas, karena indah dan keindahan merupakan dua kata yang berbeda, tetapi mempunyai muara yang sama. Kedua-duanya akan menghadirkan perasaan senang bagi setiap orang, tidak pernah membosankan, selalu menebarkan kesejukan dan kedamaian, serta sanggup melahirkan energi kebajikan, sehingga orang lain akan terinspirasi serta termotivasi untuk berlomba-lomba melahirkan keindahan-keindahan serupa, yang akan dipantulkan dalam setiap perjalanan hidup kepada sesamanya untuk menuju keindahanNya.
Kesombongan akan terjadi pada setiap masa dan keadaan, jika seseorang telah mengaburkan nilai-nilai kebenaran Ilahi yang seharusnya mereka junjung tinggi, kesombongan juga akan muncul, jika ada seorang diantara kita telah menjadi korban pelecehan bagi yang lain, kesombongan akan selalu hadir ditengah-tengah kita, jika kita telah berbuat destruktif bagi alam semesta, lantaran ucapan, sikap dan perbuatan semena-mena.
Perilaku mengkerdilkan dan meremehkan peran, fungsi dan eksistensi kepada sesama manusia, adalah sebagai bagian dari refleksi keburukan perangai, sedangkan menghormati, memulyakan kepada orang lain dengan penempatan secara proporsional adalah manifestasi dari sikap rendah hati kita, dalam memulyakan orang lain, bukan suatu kerendahan diri.
Untuk itulah, sebenarnya tingkat kedewasaan pola pikir seseorang, kematangan emosional, kedalaman ilmu dalam pengamalan kehidupan sosial-keagamaannya, keharmonisan hubungan dengan sesamanya serta kedekatan dengan RabbNya, akan tercermin pada seberapa jauh diri seseorang telah memerankan efektivitas fungsi dirinya menjadi rahmat bagi lingkungan disekitarnya.
Siapapun akan menyadari, bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan di samping juga kekurangan, jika neraca keadilan dengan mengadopsi sifat keadilan Tuhan menjadi tolok ukurnya, kita tempatkan sebagai alat penimbang satu-satunya, tentu akan terhindarkan dari praktek kedzaliman dan yakinlah akan membuahkan keadilan, kebenaran, kepuasan dan kebahagiaan hakiki.
Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada Haritsah bin Wahab dan Abdillah bin Mas’ud. Maukah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka ? Kata Nabi: Yaitu orang-orang yang kasar perangainya dan menyombongkan diri. Dan tidak akan masuk surga orang yang dihatinya terdapat kesombongan, meskipun hanya seberat biji terkecil ( dzarroh ).
Para ahli komunikasi menyampaikan pendapatnya bahwa, ada tiga kata ajaib yang mampu membangun hubungan baik antar sesama manusia, mampu mengikatkan dan menguatkan hubungan, yaitu: terima kasih, maaf dan tolong.
Pertama, Ungkapan terima kasih sesungguhnya akan lahir dari lisan seseorang yang didasari rasa syukur kepada Allah SWT atas semua rahmadNya, karena Dialah sesungguhnya yang menggerakkan orang lain untuk menolong seseorang, agar melakukan sesuatu atau memberi sesuatu. Untuk itulah, bisa dikatakan jika ada seseorang yang masih pelit dalam mengucapkan rasa terima kasih dalam mengekspresikan rasa syukurNya, berarti orang tersebut memang belum berkembang spiritualitasnya secara optimal. Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Barangsiapa yang pandai berterima kasih kepada sesama manusia, berarti ia pandai bersyukur kepada TuhanNya.
Kedua, kata maaf meskipun hanya satu kata namun tidak jarang seseorang ternyata berat sekali untuk mengucapkannya. Misalkan, seorang yang menduduki jabatan tertentu, sebelum menyampaikan permohonan didepan publik harus mendiskusikan terlebih dahulu panjang lebar dengan staf ahlinya, apa untung ruginya dengan ucapan maaf tersebut. Padahal Islam sangat menganjurkan, jika kita melakukan kesalahan, maka segeralah kita minta maaf dengan jiwa ksatria tanpa harus ditunda-tunda, lalu bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi kesalahan kedua kalinya.
Ketiga, kata minta tolong inipun masih sangat jarang kita temukan, justru yang sering terjadi adalah kata-kata dengan nada memerintah. Minta tolong sejatinya juga berarti memerintah kepada orang lain, namun dengan bahasa yang lebih santun, bahasa yang menghargai harkat dan martabat manusia sebagai sesama ciptaan Allah SWT. Suasana tentu akan sangat berbeda, ketika seseorang memerintahkan sesuatu kepada orang lain yang sebelumnya didahului kalimat minta tolong, atau didahului dengan kalimat bertanya misalnya, apakah Bapak/Ibu sedang repot sekarang, jika tidak repot bolehkah saya minta tolong ? Jika, hal itu yang kita jadikan pilihan kata-kata dalam meminta tolong kepada orang lain, yakinlah tingkat keberhasilannya tentu akan lebih baik.
Berbagai ujian yang datang silih berganti menimpa bangsa kita akhir-akhir ini, haruslah kita pahami sebagai bentuk rasa kasih sayang Allah kepada kita, Allah SWT telah mengingatkan di saat kita lupa, karena kita telah berbuat sombong dan aniaya terhadap sesama, tidak percaya kepada yang lain, saling membunuh karakter satu sama lain, hanya untuk membela kepentingan diri dan kelompoknya, namun mengabaikan kepentingan bangsa, kita telah menjadikan ayat-ayatNya sebagai jargon-jargon politik, tetapi kosong dalam amaliah kehidupan kita. Kita telah menjaga jarak dariNya, serta enggan untuk cepat berlari menuju kedekatan diri kepadaNya, ( Fafirru Ilallah ).
Semoga Allah SWT selalu menjaga hati dan perangai kita dari setiap kejelekan dan kerasnya kepala, serta menjadikan kita sebagai hamba Allah yang pandai besyukur kepadaNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s