SEANDAINYA AKU…

Oleh :

Abu Zahlan Husain *).

ALKISAH salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad SAW ketika ada salah satu sahabatnya yang meninggal dunia beliau tidak ketinggalan juga untuk bertakziah, ikut serta mengantarkan jenazahnya sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dan pada saat pulang dari pemakaman beliau masih menyempatkan diri singgah dirumah duka untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rosulullah SAW berkata,” tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya? ” Istri almarhum menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal, namun saya tidak begitu jelas apa yang dimaksudkannya” wahai rosulullah !
Apa yang di katakannya?
“Saya tidak tahu pasti, ya Rosulullah, apakah ucapan almarhum suami saya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah ungkapan kepedihan dan kesakitan yang luar bisa karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami ya Rosulullah lantaran merupakan kalimat yang keluar dengan suara terbata-bata.”
“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.
Istri yang setia itu menjawab,”Suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi, andaikata yang masih baru, dan andaikata semuanya” hanya itulah yang tertangkap dalam pendengaranku sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu merupakan refleksi dari igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”
Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.

Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”.Maksudnya, andaikata perjalanan menuju ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula yang akan kuterima. Ucapan lainnya ya Rosulullah? ” tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab,”Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain ditampakkan balasannya oleh Allah SWT ditengah-tengah suamimu menghadapi sakaratul maut. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca pada saat itu dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati karena kedinginan yang menderanya. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantel lama yang dipakainya, kemudian diberikannya kepada lelaki tua tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dipakainya sendiri. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andai kata yang masih baru yang kuberikan kepada lelaki tua itu dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku akan jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan oleh suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri semakin penasaran ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,” masih ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu pulang kerumah dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan olehmu? Lalu engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba datang seorang musyafir yang sudah beberapa hari perutnya tidak terisi makanan sedikitpun lalu mengetuk pintu dan meminta agar diberi sesuap makanan untuk mempertahankan hidupnya. Suamimu lantas membagi roti yang sudah ada ditangannya menjadi dua potong, yang sepotong diberikan kepada musyafir itu, sepotong lagi ia makan sendiri. Subhanallah, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari perbuatan yang dilakukannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dengan penyesalan yang sangat mendalam dan berkata “ kalau aku tahu begini hasilnya, pasti musyafir itu tidak hanya kuberi separoh “. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.
Saudaraku, memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa diri kita sendiri. Karena itu Allah mengingatkan: “kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu telah berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(surat Al Isra’:7)
Untuk itu saudaraku, amal kebaikan apapun wujudnya yang telah kita lakukan sudah semestinya kita yakini bukan sebagai amalan yang sia-sia disisi Allah SWT. Allah Maha Melihat apa yang hambaNya lakukan dan Allah Maha Mengetahui balasan apa yang akan diterimakan kepada hambaNya.
Saudaraku, kedermawanan, keihlasan, semangat berbagi kepada sesama yang merupakan esensi dari training dibulan suci ramadan ini tentunya harus mengejawantah pada saat kita mulai berpuasa dan terus bersemi serta semakin subur dibulan-bulan pasca kita melakukan ibadah puasa, dengan demikian tujuan Allah SWT memberikan ruang dan kesempatan kepada kita untuk menjalankan puasa agar menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa akan dapat kita raih.
Saudaraku, mari dibulan suci ramadan ini kita sama-sama belajar lagi untuk menata hati, mengasah talenta kita agar memiliki kecerdasan dan kesalehan sosial dengan suka menolong dan berbagi kepada orang lain yang sangat memerlukan uluran tangan kita, tanpa harus mengkalkulasi dengan kalkulator penghitungan kita yang cenderung melihatnya dari dimensi untung-rugi, karena sesungguhnya perhitungan Allah tentu tidak akan pernah sama dengan perhitungan kita.
Wallahu ‘Alam Bish Showab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s