SANG DERMAWAN DI KEGELAPAN MALAM

Sang Dermawan di Kegelapan Malam
Oleh:
Abu Zahlan Husain Vica *)

ETIKA Islam mengajarkan kepada ummatnya, saat seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kanan, maka kita diwanti-wanti agar tangan kiri kita tidak boleh mengetahuinya. Demikian ini, tentu terkandung maksud bahwa di dalam Islam sangat ditekankan betapa amaliah apapun yang kita lakukan seolah-olah yang boleh tau hanyalah Allah SWT, sebab keikhlasan disini akan sangat berpengaruh bahkan menjadi penentu bagi amaliah yang kita lakukan apakah berbuah pahala atau kesia-siaan, lantaran munculnya pamrih dan niat selain Lillahi Ta’ala.
Potret seperti inilah yang dilakukan oleh seorang laki-laki misterius, yang dulu sempat menggemparkan penduduk Madinah saat itu, karena apa yang diperbuatnya sangat rapi sekali sehingga bertahun tahun tak seorangpun mengetahui jejak dan aktivitas rahasianya.
Hampir disetiap malam seorang laki-laki dengan langkah gontai penuh kehati-hatian, karena beban berat dipundaknya mengangkut sekarung gandum berkeliling menyusuri kampung demi kampung untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, saat mereka sekeluarga terlelap tidur dengan meletakkan di depan pintu rumahnya. Anehnya laki-laki misterius itu selalu datang di saat yang tepat, seolah-olah dia tau persis jika stok bahan makanan di rumah orang miskin tersebut telah menipis, dan sekarung gandum pun paginya sudah ada di depan pintu rumahnya.
Penduduk Madinah pun ramai membicarakan perihal kejadian yang sangat langka itu, siapa gerangan orang yang sangat baik hati tersebut sesungguhnya?. Setiap orang menebak-nebak siapa pelaku sebenarnya? Tetapi sebatas menebak, tidak sampai menemukan siapa sesungguhnya sang dermawan yang sangat misterius itu.
Meskipun berita ini menjadi bahan perbincangan hangat setiap hari para penduduk Madinah, tetapi sampai berlangsung sekian tahun tidak ada seorangpun yang mengaku sebagai pengirim gandum tersebut, pelakunya pun tidak diketahui identitasnya, maka para penduduk miskin itu hanya mengirimkan sebongkah doa ketika mendapati gandum tergeletak didepan pintu, agar Allah SWT memuliakan sang dermawan itu, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Pada suatu malam, pasca menjalankan qiyamul lail seperti kebiasaannya, Ali Zainal Abidin berjalan menyusuri gang-gang sempit tertatih-tatih dalam kegelapan, kakinya menahan beban berat dengan sekarung gandum yang ada dipundaknya, Ali memastikan malam itu benar-benar sepi dan tidak ada seorangpun melintas di jalanan.
Namun tiba-tiba seseorang melompat dikegelapan. Lalu menghadangnya, sambil berkata agak keras, hei fulan! serahkan semua harta kekayaanmu! kalau tidak engkau akan kubunuh! orang bertopeng itu menggertak dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali. Sesaat Ali Zaenal terperangah, karena gertakan orang itu. Ali dengan sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok, sehingga membuat orang bertopeng itu terjungkal.
Seketika itu, Ali segera menarik topeng yang menutupi wajah yang belum dikenalinya. Siapa kau? tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.
Ampun tuan, jangan siksa saya, saya hanyalah orang miskin, katanya menghiba. Kenapa kau merampokku? tanya Ali. Maafkan saya tuan, saya terpaksa merampok karena anak-anak saya sedang kelaparan, sahutnya dengan wajah memelas.
Baik, kalau begitu kau kulepaskan, dan bawalah sekarung bahan makanan ini untuk anak-anak dan keluargamu, kata Ali.
Beberapa saat orang itu terbengong-bengong, sambil memandangi Ali dengan penuh keheranan. Sekarang segera pulanglah! kata Ali. Orang itu pun bersimpuh di hadapan Ali, sambil sesenggukan menangis. Tuan, terima kasih banyak! Tuan sangat baik dan mulia! saya bertaubat kepada Allah, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kata orang itu penuh penyesalan yang mendalam. Ali menganggukkan kepalanya, hai, orang yang bertaubat, sungguh, Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengampun.
Aku berpesan, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini, kata Ali sebelum orang itu pergi. Pencuri itu pun berjanji, namun dalam hati kecilnya bertanya-tanya mengapa Ali melarang menceritakan pertemuan dengannya malam itu?
Suatu ketika, saat Imam Ali Zainal Abidin berpulang kerahmatullah, orang yang memandikan jenazahnya terheran-heran melihat bekas-bekas kehitam-hitaman di punggung jenazah Imam Ali Zaenal Abidin. Lalu mereka pun bertanya-tanya satu sama yang lainnya, dari manakah asal bekas-bekas hitam pada jenazah yang mulia ini? Ini sepertinya bekas benda yang dipikul setiap harinya? Lalu dari mana beliau mendapat bekas ini? Orang-orang setengah tidak percaya, mengingat Imam Ali Zaenal Abidin adalah Ulama besar, tetapi memiliki punggung hitam legam laiknya seorang kuli pasar atau kuli di pelabuhan.
Mantan perampok itu akhirnya membuka mulut memberikan kesaksiannya, itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Imam Ali Zaenal Abidin ke seratus rumah di Madinah pada malam hari. Ia terpaksa membocorkan rahasia yang tak terpecahkan dan menjadi misteri selama bertahun-tahun.
Akhirnya, meledaklah ratap dan tangis orang-orang miskin yang selama ini selalu mendapatkan bantuan dari Ali Zaenal Abidin, mereka baru tahu dari mana datangnya Gandum yang menghidupi keluarga mereka selama ini, selama bertahun-tahun mereka tidak berhasil memergoki sang dermawan berhati sangat mulia ini, sekedar untuk mengucapkan rasa terima kasih, mereka baru mengetahui lelaki mulia itu adalah Ali Zainal Abidin Bin Husein Bin Ali bin Abi Thalib, cucunda sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, sekaligus cicit dari baginda Rosululloh SAW.
Saudaraku, puasa ramadan yang kita lakukan seperti saat ini, setidak-tidaknya mengajarkan kepada kita tentang keimanan, kejujuran, keihlasan, kedermawanan, tanggung jawab, semua itu akan dapat terwujud dan menyatu dalam prilaku keseharian seorang muslim, jika pada dirinya melekat rasa keimanan yang kuat, mendalam dan senantisa terbarukan.
Untuk itulah, semangat dan motivasi yang tinggi dalam menyegarkan secara kontinuitas pemahaman keilmuan dan keislaman kita, tentu menjadi suatu keniscayaan bagi setiap orang. Mengapa? karena tidak seorang pun berani menggaransikan kalau kualitas keimanan dan keislaman yang ada pada dirinya, akan tetap dalam kondisi bagus dan stabil. Bukankah Rosulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita semua dengan sabdanya: Al-Imanu yazidu wa yanqusu, keimanan itu terkadang meningkat tetapi juga menurun, ini artinya keimanan pun akan mengalami fluktuasi sesuai situasi dan kondisi yang melatarbelakangi kejiwaan seseorang.
Kisah keagamaan di atas, tentu harus mampu kita jadikan inspirasi sebagai bahan pembelajaran sangat berharga untuk kita semua, betapa seorang Ulama besar sekelas Ali Zainal Abidin yang sangat disegani oleh masyarakatnya, tetapi beliau masih harus merahasiakan untuk urusan amaliah dan ibadah sosialnya, tidak ingin meski seorangpun mengetahui apa yang telah diperbuatnya, karena khawatir akan muncul rasa riya, ujub, sombong dihatinya. Hal demikian, tentu berbalik sekali dengan kondisi yang terjadi selama ini, dimana ketika seseorang melaksanakan kegiatan untuk membantu orang lain, maka kepinginnya seluruh stasiun televisi, radio maupun media masa yang ada untuk bisa meliputnya, sungguh fenomena yang menggelikan sekali.
Saudaraku, puasa ramadan tahun 1434 H. sebentar lagi akan meninggalkan kita semua, maka tidak ada salahnya jika beberapa hari yang tersisa ini harus kita jadikan momentum sebagai bahan muhasabah, evaluasi dan refleksi diri, agar kita semua terpacu untuk meningkatkan intensitas dan kualitas amal ibadah sehingga mampu menemukan bukti yang sahih, apakah puasa dan amalan ibadah lain yang kita lakukan selama ramadan ini sudah mendekati dengan apa yang diinginkan oleh Allah SWT dan apakah sudah selaras dengan apa yang diteladankan oleh baginda nabi Muhammad SAW ? sehingga pasca ramadan tahun ini dan kedepan kita semua benar-benar tetap menjadi hamba-Nya yang muttaqin, suci lahir dan suci bathin, semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s