PENGENDALIAN DIRI

Oleh

Abu Zahlan Husain Vica *)

DALAM hadits qudsi Allah SWT berfirman: Demi keagungan-Ku, kebesaran-Ku, kemuliaan-Ku, cahaya-Ku, ketinggian-Ku, dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendaknya di atas kehendak-Ku kecuali Aku cerai-beraikan urusannya, Aku kacaukan dunianya. Aku repotkan hatinya dengan dunianya. Dan dunia tidak pernah datang kepadanya kecuali yang sudah Aku tentukan baginya. Demi keagungan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, tidaklah seorang hamba mendahulukan kehendak-Ku di atas kehendaknya, kecuali akan Aku perintahkan para malaikat untuk menjaganya. Aku akan jaminkan langit dan bumi sebagai rejekinya. Aku akan menyertai setiap usaha yang dilakukannya. Dan dunia akan datang sambil merendahkan diri kepadanya”.
Subhanallah, dalam hadits yang sangat luar biasa tersebut, Allah SWT menerangkan kepada kita tentang salah satu makna dan kiat untuk bisa lebih dekat kepada-Nya. Kiat itu tidak lain adalah dengan memposisikan dan menomorsatukan kehendak Allah di atas kehendak diri kita sendiri.
Alhasil, pada hadits itu juga secara maknawi menjelaskan bahwa terdapat dua kelompok manusia. Pertama, kelompok manusia yang mengutamakan kehendaknya di atas kehendak Allah. Kedua, kelompok manusia yang mengutamakan kehendak Allah di atas kehendak dirinya sendiri. Lalu, bagaimana dengan kategori orang yang berpuasa termasuk memposisikan kedalam kelompok yang mana?. Tentu, bagi yang berpuasa termasuk kelompok kedua, karena ia telah menempatkan kehendak Allah SWT di atas kehendak dirinya sendiri.
Seperti lazimnya ketika pagi, siang dan sore hari, andai kata Allah SWT tidak mengharamkan bagi orang yang berpuasa, maka kecenderungan untuk makan dan minum tentu akan dilakukan, padahal keinginan Allah adalah melarang makan, minum, sampai batas waktu yang ditentukan ( maghrib ). Kepatuhan dan keihlasan yang didasari dengan rasa keimanan yang kuat dalam mentaati perintah atau larangan Allah bagi orang yang berpuasa, jelas-jelas merupakan indikator adanya keinginan mengutamakan keinginan Allah SWT, meski rasa lapar dan dahaga mengusik perutnya, timbulnya gejolak untuk pemenuhan nafsu biologisnya, namun ia pun tetap tabah, kuat bertahan, tidak bergeming maupun tergoda.
Disaat yang sama, ketika lapar dan dahaga mendera, umumnya seseorang mudah sekali tersinggung, temperamental, gampang sekali uring-uringan, bahkan kalau marah sulit terkontrol. Tetapi, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersabar dan mengendalikan amarah. Rasulullah SAW. Bersabda: Siapa yang dapat mengendalikan amarahnya di bulan Ramadhan, Allah akan menahan murka-Nya pada hari kiamat nanti.
Bergulirnya waktu dan hari menjadikan momentum, peluang dan kesempatan hadir menyerta, bersamaan itu pula kita dihadapkan pada dua sisi pilihan: Apakah akan memenuhi kesenangan Allah atau sebaliknya memenuhi kesenangan diri kita sendiri. Allah SWT memerintahkan kita bekerja keras penuh vitalitas mencari nafkah yang halal dan thoyyib untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita. Bila kita memiliki kelebihan harta, Allah berkehendak agar kelebihan itu didistribusikan kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Akan tetapi realitanya, jika kita mempunyai kelebihan rejeki, kehendak kita yang disetir hawa nafsu justeru memanfaatkan kelebihan itu untuk memenuhi keperluan konsumtif kita. Kita beli beraneka makanan, pakaian, perabot rumah tangga, kendaraan, assesoris, dll. Padahal barang itu semuanya sudah dimiliki, mungkinkah prilaku menumpuk-numpuk harta benda seperti ini yang disindir Allah SWT, bahwa manusia esensinya memiliki sifat rakus, tidak pernah berpuas diri dalam menumpuk harta, sampai mereka mati diantar keliang lahat.
Mestinya pada momentum bulan puasa seperti ini, kepekaan sosial kita semakin terasah, empati kita semakin menguat, kepedulian kita kepada sesama semakin melejit, karena grafik keimanan dan ketakwaan kita meningkat drastis, disinilah saatnya keniscayaan atau keharusan untuk mulai belajar mengesampingkan kehendak kita, setidak-tidaknya menguranginya, kemudian kita prioritaskan mengutamakan kehendak Allah SWT. Kita penuhi kehendak Allah dengan berbagi, memperbanyak bersedekah kepada para fakir miskin dan mustadh’afin, berzakat maupun berinfak, amal jariyah dan peningkatan kualitas amal ibadah. Maka disinilah sesungguhnya awal munculnya puncak perjalanan perkembangan emosional dan spiritual kejiwaan seseorang.
Konon, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Hambali, suatu ketika dihampiri perempuan muda yang hendak mencurahkan isi hatinya. Perempuan ini hatinya sedang galau luar biasa, disebabkan hatinya dihantui perasaan serba bersalah atas tindakan cerobohnya beberapa waktu yang lalu.
Awalnya ia mengisahkan kondisi serba kekurangan kehidupan keluarga bersama ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Keadaan ini terpaksa ia jalani karena sang suami yang menjadi tulang punggung keluarga telah lama meninggal dunia.
Agar dapat bertahan hidup, perempuan itu menekuni profesinya sebagai pemintal benang. Pada malam hari ia memintal, di siang hari ia menjualnya, demikian ini ia lakoni terus menerus dari hari kehari, namun karena fasilitas, kesempatan waktu dan tenaga yang serba terbatas, membuatnya tetap saja miskin dengan profesi ini.
Saking miskinnya, ia pun tidak memiliki lampu di dalam rumah, sehingga untuk mengawali pekerjaannya dalam memintal benang, ia terpaksa menunggu hadirnya cahaya bulan purnama, ketika bulan tertutup awan ia pun menghentikan pekerjaannya, yang berarti esoknya tidak ada pintalan benang yang siap dijual untuk mendapatkan uang sekedar bisa membeli makanan bagi dirinya dan ketiga anaknya, masya Allah.
Pada suatu malam, tempat tinggal keluarganya tidak segelap hari-hari biasanya, kondisi demikian ini bukan berarti disebabkan sinar purnama telah datang, namun rupanya serombongan kafilah kebetulan beristirahat dari perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan kemudian bermalam di dekat rumah perempuan ini. Bias aneka lampu yang dibawa oleh para kafilah, secara tidak sengaja turut menerangi area di sekeliling gubuk perempuan tersebut.
Dihadapan Imam Hambali, perempuan muda ini berterus terang bahwa dirinya telah memanfaatkan kesempatan bersama bias cahaya lampu para kafilah tersebut untuk memintal benang. Lalu, yang membuat hatinya resah dan gelisah adalah dirinya lupa untuk meminta izin kepada rombongan kafilah tersebut, kalau ia semalam memanfaatkan bias cahaya lampunya.
Perasaan hatinya berkecamuk, wahai tuan apakah hasil penjualan benang yang saya pintal di bawah bias cahaya lampu kafilah itu halal untuk saya gunakan? tanya perempuan itu kepada sang imam.
Imam Hambali menatap wajah perempuan itu dengan tatapan kosong. Tidak lama kemudian, air matanya mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya dan sesenggukan dalam dadanya pun lama untuk berhenti. Pendiri mazhab fiqih Hambali ini sangat terkagum-kagum, di tengah mayoritas orang telah dilanda virus keserakahan terhadap dunia, masih ada seorang perempuan miskin yang memikirkan kesucian mencari harta untuk dimakan bersama ketiga anaknya.
Padahal, Imam Bukhari dalam riwayatnya menceritakan statemen Rasulullah Muhammad SAW bahwa akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.
Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan kita semua, bisa menyegarkan jiwa kita kembali, mampu menjadi inspirasi dan motivasi kita semua, akan sebuah komitmen dan keyakinan dalam keberagamaan kita, apalagi disaat kita semua sedang menjalankan ibadah puasa ramadan, untuk selalu memperbaharui dengan lebih arif lagi, sehingga pada akhirnya kita mampu untuk lebih mengutamakan kehendak dan keinginan Allah SWT di atas kehendak dan keinginan diri kita sendiri, kita juga harus mampu menjadi orang pertama yang dapat mengutamakan hak orang lain yang ada pada diri kita, dan mengakhirkan hak kita setelah hak orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s