NASEHAT KEARIFAN SANG NENEK

Oleh:
Abu Zahlan Husain

TRADISI untuk menuangkan gagasan pemikiran, mozaik islam ataupun nilai-nilai kearifan ajaran Islam yang sangat tinggi dan mulya dalam bentuk dokumenter maupun berbentuk buku tekstual yang bernilai keilmuan sekaligus keilmiahan dan kelak dapat diwariskan kepada para generasi mendatang, tampaknya bagi mayoritas ummat Islam di Indonesia khususnya, diakui ataupun tidak memang masih sangat kecil sekali prosentasenya, bahkan cenderung memprihatinkan dibandingkan ummat yang lain.
Realitas tersebut, mestinya bisa kita jadikan bahan perenungan sekaligus telaah kritis bagi kita semua untuk segera mencari terobosan cerdas guna menemukan solusi dari problema yang masih melilit kondisi ummat Islam kita sampai kini.
Ummat Islam, sebenarnya memiliki jutaan ilmuwan yang luar biasa, dan kompetensi yang dimilikinya sangat tinggi tidak diragukan lagi reputasinya bahkan diapresiasi dunia internasional, karena pemikiran-pemikiran cemerlang dari pemahaman keilmuan keislaman yang dilakukannya ternyata dijadikan landasan dalam pengembangan dan inspirasi lahirnya keilmuan modern seperti sekarang ini, sebut saja Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Muhammad Al-Khawarizmi, Imam Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dll.
Di negara kita Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, tidak kalah keberadaan para cendekiawan muslimnya, juga telah berkontribusi bagi pembinaan ummat melalui keterlibatannya secara langsung maupun secara tidak langsung. Para Ulama dan Kyai kita juga secara tulus ikhlas memberikan pencerahan kepada ummatnya, baginya pembelajaran yang dilakukan ditengah-tengah kehidupan masyarakat adalah sebagai implementasi dari seruan dakwah yang merupakan tugas dan tanggung jawabnya dari perintah ajaran agama untuk pembinaan ummatnya.
Para Ulama dan Kyai kita tidak henti-hentinya, blusukan dari kampung ke kampung mendekati audien mengadakan pencerahan-pencerahan kepada ummat Islam, tanpa memperhitungkan waktu, kesehatan, bahkan sama sekali tidak memikirkan resiko yang akan terjadi, kesulitan dalam menempuh medan dakwah karena desa yang terisolir, sering menjadi pemandangan hampir sehari-hari dan tidak menyurutkan sedikitpun semangat juang berdakwahnya.
Kiprah dan pergulatan dalam pencerahan kepada ummat yang sedemikian beratnya ini, tentu akan terasa sayang, manakala tidak terdokumentasikan secara baik, apakah melalui rekaman audio visual maupun dokumentasi tekstual yang dapat berupa CD, buku, majalah dll.
Hal demikian ini, telah diingatkan secara tekstual beberapa abad lampau oleh Rosulullah SAW melalui sabdanya: Suatu masa nanti akan hilang ilmunya Allah sedikit demi sedikit, bersamaan wafatnya para ulama.
Interpretasi tekstual yang dapat kita lakukan dari hilangnya ilmu bersamaan dengan wafatnya para Ulama, tentu tidak hanya kita fahami dari sekedar kehilangan secara jasadi sebab meninggalnya ulama tersebut, namun urgensi pesan moral yang harus kita kumandangkan secara terus menerus adalah kekhawatiran kita akan kehilangan sejarah autobiografi figur seorang ulama baik menyangkut kiprah, pemikiran, keteladanan maupun keilmuannya yang tidak terdokumentasikan secara baik, sehingga generasi yang hidup sesudahnya kehilangan mata rantai dari obor penerang yang telah dinyalakannya.
Sekedar gambaran cerita yang dapat memberikan inspirasi kepada kita semua, dikisahkan seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku? Mendengar pertanyaan si cucu secara tiba-tiba ini, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek berharap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti, ujar si nenek lagi.
Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat ternyata tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya, ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab, itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini setidak-tidaknya mempunyai beberapa pembelajaran yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.
Si nenek kemudian menjelaskan pembelajaran dari sebuah pensil. Pertama : Pensil mengingatkan kepadamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini, layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Nenek menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.
Kedua: Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali mata pensil. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih arif.
Ketiga: Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek, bukanlah hal yang tabu. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar dan diridhoiNya.
Keempat: Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah waspada dan menyadari hal-hal yang ada di dalam dirimu, yaitu hatimu.
Kelima: Sebuah pensil selalu meninggalkan goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu, buatlah dan wariskan kesan dan pesan yang baik dan dokumentasikan kepada generasi sesudahmu sebagaimana nenek menulis surat ini, agar jasa-jasamu kelak dijadikan inspirasi dan teladan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s