MERETAS KEBAHAGIAAN HATI

Oleh:
Abu Zahlan Husain Vica *)

KEBAHAGIAAN, sebuah kata yang setiap orang tentu ingin menggapainya. Assa’adah atau kebahagiaan memang mampu menjadi magnet, tantangan, motivasi sekaligus spirit tersendiri bagi kebanyakan orang, meski sudut pandang dan tolok ukurnya dalam memaknai dan meraih kebahagiaan berbeda. Berbagai cara dan upaya sesuai minat dan kompetensi seseorang, dari waktu ke waktu berlomba-lomba untuk meraihnya.
Kita ambil satu contoh segmen potret kehidupan yang ada, kalau kita bertanya kepada seorang sopir angkot misalnya, yang akhir-akhir ini lagi galau dengan program mobil murah, jika pemerintah benar-benar akan memberlakukan kebijakan tersebut tanpa adanya kajian yang mendalam, maka dampak yang langsung merasakannya adalah para awak angkot dan angkutan umum lainnya, lantaran akan semakin minim orang yang menggunakan jasanya, pada sisi yang lain jika infrastruktur dan regulasi belum disiapkan secara matang, maka akan menambah ruwetnya jalan raya, kemacetan semakin tidak terurai, karena jumlah mobil akan semakin tidak terkendali. Meskipun sebenarnya ada sisi positif yang perlu juga mendapatkan apresiasi, dengan semakin banyak orang yang mampu membeli mobil, bukankah ini merupakan pertanda perekonomian dan kemakmuran masyarakat semakin membaik ?.
Kenapa seseorang setiap hari harus bekerja keras? Jawabannya sudah bisa diprediksi tentu diseputar untuk mencari nafkah, mencukupi kebutuhan hidup diri, keluarga, dan mencari kebahagiaan. Dengan bekerja keras, dan beribadah secara sungguh-sungguh apa yang dimimpikan nantinya dapat menjadi suatu kenyataan, yaitu mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan hidup lahir bathin, di dunia maupun di akhirat kelak.
Dahlan Iskan pernah mengatakan: “ Ladang untuk berkarya amatlah luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, maka hidup ini akan menjadi indah dan penuh makna “.
Saudaraku, dalam memaknai kebahagiaan, seorang dengan lainnya pasti berbeda-beda. Bagi seorang guru tentunya akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan, apabila pembelajaran yang dilakukannya diterima dengan senang hati oleh peserta didik, indikator pembelajaran tercapai, semua siswa tuntas dalam belajarnya, berhasil membentuk karakter mulia, dan dapat mengantarkan peserta didik dalam meraih cita-cita yang dapat mengharumkan nama orangtua, guru, almamater serta bangsanya. Bagi pesepak bola tentunya akan merasa bahagia, apabila pemain mampu menjaringkan bola ke gawang lawan serta memenanginya pertandingan, menjadi juara. Bagi pedagang kebahagiaan akan nampak hadir terlihat diraut muka dengan sumringah, kalau barang dagangannya ludes terjual dalam waktu relatif singkat dan meraup keuntungan, bisa kulakan lagi, dsb.
Saudaraku, Ibnu Khaldun mengatakan, bahagia adalah apabila semua “gharizah” atau insting mendapatkan kepuasan. Perut akan bahagia apabila gharizahnya terpenuhi, yaitu makan dan minum. Mata akan bahagia apabila gharizahnya terpenuhi, yaitu melihat pemandangan yang indah, bisa untuk istirahat-tidur, bisa mengeluarkan air mata saat dilanda kesedihan ataupun sedang merasakan kebahagiaan.
Tingkatan kebahagianpun dibedakan menurut objeknya. Misalnya insting perut adalah makan, namun kebahagiaannya berbeda antara makan nasi dengan roti misalnya, hal demikian sering kita jumpai menyangkut prilaku dan kebiasaan seseorang dalam kesehariannya. Kalau seseorang sudah terpola sarapan pagi dengan makan nasi, maka meskipun dia makan roti sudah beberapa potong belum juga menganggapnya telah sarapan, dia masih membutuhkan nasi sebagai menu wajib untuk sarapan paginya.
Saudaraku, Ra’biah Al Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang Lahir di Basrah Irak sekitar tahun 714 M. Sebagian dari kalangan sufi menjadikan cinta sebagai ajaran pokok dalam tema-tema sentral perihal tasawuf, khususnya ajaran Rabi’ah adalah tentang cinta Ilahi. Sejak dia memperkenalkan ajaran ini, cinta Allah menjadi perbincangan kaum sufi, yang sebelumnya lebih sering didominasi memperbincangkan khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan).
Rabi’ah juga disebut sebagai orang wanita pertama yang menjadikan cinta Ilahi sebagai obyek utama dalam kajian karya-karya puisinya, antara lain berbunyi: Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan padaku di dunia ini, berikanlah pada musuh-musuh-Mu, dan apapun yang akan Engkau karuniakan padaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu, karena Engkau sendiri telah cukuplah bagiku.
Pada kesempatan yang lain Rabi’ah juga bersenandung: Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena aku berkeinginan masuk surga, tetapi aku mengabdi, karena cintaku semata-mata pada-Nya. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakanlah aku darinya, namun, jika aku menyembah-Mu, demi Engkau semata, janganlah Engkau berpaling dan enggan memperlihatkan keindahan dan keelokan wajah-Mu yang abadi padaku di akhirat nanti. Alangkah buruknya, seseorang yang menyembah Allah karena mengharap surga dan ingin diselamatkan dari siksaan neraka. Seandainya surga dan neraka tidak ada, apakah engkau tidak akan menyembah-Nya? Aku menyembah Allah karena mengharap ridha-Nya, nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya sudah cukup menggerakkan hatiku untuk menyembah-MU, demikian Rabi’ah mengakhiri senandungnya.
Saudaraku, kebahagiaan hati tentunya berbeda sekali dengan kebahagiaan jasadi misalnya perut, mata dan anggota badan lainnya. karena karakter hati masuk kedalam wilayah rohani seseorang, sedangkan karakter anggota badan yang lainnya termasuk wilayah lahiriah.
Untuk itu, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah ( mudghoh ) yang jika keadaannya baik, maka akan baik pula seluruh anggotanya. Dan apabila rusak, maka rusak pula seluruh badannya, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati. HR. Bukhari dan Muslim.
Dari sabda Rasulullah SAW tersebut, dapat dipahaminya jika dominasi dimensi rohaniah seseorang lebih menonjol kebaikannya, maka akan ikut berkonstribusi secara signifikan mempengaruhi prilaku-prilaku positif lahiriah seseorang, baik dalam pembicaraan maupun tingkah laku keseharian yang lainnya, demikian pula sebaliknya.
Saudaraku, tingkatan kebahagiaan hati seseorang tentu berbeda antara seseorang dengan yang lainnya. Ada yang merasakan bahagia, jika dapat menyelesaikan tugas yang diberikan atasannya secara tepat waktu dan hasilnya mendapatkan pujian dari bosnya, ada yang merasakan kebahagiaan, jika mendapatkan pendamping hidup sesuai kriteria yang diinginkannya dan dikaruniai anak-anak yang lucu, atau ada juga seseorang merasakan kebahagiaan jika anak-anak semuanya menyandang gelar sarjana, meski orangtuanya hidup serba dalam kekurangan. Namum ada pula seseorang yang merasa bahagia apabila dia bisa membantu dan menolong seseorang yang sangat membutuhkan uluran tangannya. Allah SWT berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (92:10).
Saudaraku, kebahagiaan tertinggi bagi setiap orang Islam tentunya mengenal Dzat Yang Maha Rahman dan Rahim serta jatuh cinta pada-Nya. Itulah puncak dari segala kebahagiaan, mengenal Allah Rabbul Alamin, baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Hal demikian ini seperti firman Allah SWT: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d :28)
Pada surat yang lain Allah SWT berfirman: Wahai nafsu yang tenteram, kembalilah kepada tuhan-Mu dengan hati yang redha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku ( QS. Al-Fajr : 27-30 )
Saudaraku, orang yang bijaksana adalah orang yang selalu sibuk meneliti dirinya, ketimbang meneliti orang lain. Oleh karena itu, mereka selalu merasakan kekurangan dibanding kelebihannya, karena mereka masih pada tataran rohani yang rendah, sehingga berusaha menebus kekurangan diri dengan pembersihan rohani dan peningkatan kualitas keimanan, ketaqwaan, amal soleh dan terus bertaqarrub kepada Allah SWT. Insya Allah akan mendapatkan kebahagiaan hati yang sejati.
Akhirnya, izinkan kami berdo’a, Ya Allah diantara berjuta para pecinta-Mu, sudilah kiranya Engkau memandangku dengan pandangan rahmat dan kasih sayang-Mu, dan kabulkan kami dalam meretas kebahagiaan hati menuju ridho-Mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s