MEREDAM EMOSI,MELEJITKAN PRESTASI

Oleh:

Abu Zahlan Husain Vica *)

GHODZOB, emosi, amarah, murka, berang, dan istilah lain yang mempunyai arti sepadan dengan kata-kata sebelumnya, adalah merupakan letupan kejengkelan, puncak kemarahan seseorang kepada pihak lain karena beberapa faktor yang dapat melatarbelakanginya, bisa jadi disebabkan adanya ketersinggungan, janji yang tidak ditepati, pemberian nafkah yang tidak cukup, ketidaknyamanan yang menggangu privasinya, pelayanan yang lamban, kompetensi moral yang jelek, kinerja yang buruk, PHK, dll.
Menurut Muhammad Utsman Najati, amarah adalah emosi alamiah yang akan timbul manakala pemuasan salah satu motif dasar untuk meraih tujuan mengalami kendala, hal demikian bisa saja terjadi pada manusia atau hewan. Maka secara naluriah ia akan marah, berontak, dan melawan kendala tersebut, ia juga akan berjuang untuk mengatasi dan menyingkirkan berbagai kendala itu, sehingga ia bisa mencapai kembali tujuan dari pemuasan motifnya.
Saudaraku, sering kali kita melihat banyak orang gagal, disaat tidak bisa keluar dari kemelut yang menerpanya, stres yang berkepanjangan ketika menghadapi suatu problema, sehingga mereka kehilangan peluang dan kesempatan, kehilangan karir, kehilangan jabatan, kehilangan suami-isteri bahkan kehilangan segalanya, karena mereka lebih cenderung mengedepankan ledakan kemarahannya, ketimbang rasionalitas sehatnya untuk menimbang-nimbang apa untung ruginya ketika marah.
Bagaimana menurut perspektif Islam dalam menyikapi persoalan “amarah” ini ? sehingga amarah mendapatkan tempat yang spesifik dalam berbagai kajian, apalagi amarah ini tidak hanya menjadi persoalan yang menimpa rakyat kecil, namun juga sering menghinggapi para tokoh masyarakat baik dilevel desa, kecamatan, kabupaten, provinsi maupun pusat.
Setiap orang diyakini pernah mengalami marah atau emosi, maka tidak berlebihan kalau amarah menjadi persoalan yang dianggap sesuatu yang manusiawi. Persoalannya sampai batas mana, amarah tersebut dapat ditolerir?. Atasan marah kepada bawahannya, orangtua marah kepada anaknya, pedagang kaki lima marah kepada Satpol PP karena lapaknya yang mengganggu ketertiban umum diamankan atau bahkan digusur, sehingga tidak bisa lagi berjualan mengais rejeki.
Abdullah bin Taslim Al-Buthony pernah mengatakan: Bukan tentang seberapa besar kehebatan yang dimiliki seseorang, melainkan tentang seberapa kuat kesabaran dan keikhlasan yang diyakininya.
Saudaraku, secara general orang dipastikan tidak akan mampu menahan amarahnya tanpa memiliki sifat rendah hati, lapang dada, sabar dan pemaaf. Sifat rendah hati, lapang dada, sabar dan suka memaafkan kepada orang lain, memiliki keagungan pada setiap pribadi manusia. Inilah nasihat yang amat bijak dari Rasulullah bagi ummatnya agar menahan amarah, jangan mengumbar marah karena amarah bisa menjadi pemicu munculnya kerusakan, baik akal, jiwa, harta maupun kerusakan hati. Hal ini juga yang sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang dari Rasulullah Muhammad SAW kepada ummatnya, agar tidak terjerumus kepada kerusakan, maka beliau memberikan stimulus untuk mencegah apa yang dapat membawa kerusakan pada umatnya dengan cara mengendalikan amarah, sehingga amarahnya terkontrol, tidak membabi buta.
Allah SWT berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Q.S. Ali Imran : 133 – 134.
Saudaraku, amarah sering dianggap perihal yang manusiawi, karena pernah dialami oleh setiap orang, manusia bukanlah Malaikat. Akan tetapi, yang perlu disadari bahwa amarah yang tak terkendali bisa memberikan efek buruk, penilaian negatif dan melukai perasaan orang lain. Membiarkan amarah secara terus menerus menguasai diri kita, justru akan dapat membahayakan bagi keselamatan, kesehatan dan dapat menyebabkan tubuh menjadi rentan dari penyakit. Untuk itu, disinilah letak sebenarnya mengapa kita disarankan agar bisa mengendalikan amarah itu.
Abu Hurairah menceritakan, seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta nasihat beliau. Orang itu berkata, wahai Rasulullah berilah nasihat kepadaku ! Rasul bersabda: Janganlah engkau marah. Kemudian orang itu mengulangi permintaan nasihatnya kepada baginda Nabi, maka Nabi pun menjawabannya, janganlah engkau marah. (HR. Bukhary: 5765)
Saudaraku, pada kesempatan tersebut, Rasulullah memberikan nasihat yang singkat padat, namun mencakup semua sifat baik, yaitu nasihat agar selalu menahan amarah. Orang yang bertanya kepada Nabi itu mengulangi permintaannya sampai beberapa kali dan Nabi bersikukuh memberikan jawaban yang sama. Ini jelas menunjukkan kepada kita semua bahwa melampiaskan amarah adalah sumber dari segala keburukan dan meredam amarah merupakan penghimpun dari segala kebaikan.
Terkadang marah dikategorikan baik, manakala keberadaan marah yang sebenarnya hanya untuk bersandi wara, action, mencari simpati, memberikan pembelajaran, memacu motivasi, dan marah yang sebelumnya telah dilakukan kalkulasi pemikiran yang matang dengan merumuskan berbagai tujuan yang hendak dicapainya, marah seperti inilah menurut Gus Dur disebut “gegeran jadi ger-geran”, karena seseorang yang habis marah tidak membiarkan perbuatan marahnya memuncak, meledak-ledak tak terkontrol, tetapi selesai melakukan adegan dalam “sinetronnya” segera berpelukan, meminta maaf untuk tetap menjalin silaturrahim demi kebaikan, kemaslahatan dan kemuliaan akhlak seseorang.
Adapun marah yang termasuk buruk adalah, yang bersumber dari hawa nafsu, yang dikendalikan oleh setan, disinyalir karena sifat dan perangai buruk seseorang, kedangkalan keilmuannya, dan lemahnya keimanan, sehingga marah menjadi tidak terkendali, bahkan brutal dan cenderung merusak, karena mereka sudah dirasuki dengan berbagai kebencian serta permusuhan. Padahal kata orang bijak, kebencian itu dapat melumpuhkan hidup, cinta yang akan melepaskannya. Kebencian itu dapat membingungkan hidup, cinta yang akan mengharmonisasikannya. Kebencian itu dapat menggelapkan hidup, cinta yang akan meneranginya, untuk itu cintailah Allah SWT dan Rasul-Nya, sayangilah sesama dengan sepenuh jiwa dan raga.
Marah atau uring-uringan adalah karakter manusia, karena menjadi bagian dari tabiat itulah, sehingga manusia tidak dilarang sama sekali untuk marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif, dan kerugian dikemudian hari. Dalam riwayat Abu Said Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat memaafkan, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan sulit untuk memaafkannya. HR. Imam Ahmad.
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah mengatakan: Orang yang kuat itu tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah. HR. Imam Malik.
Saudaraku, kemarahan dalam bentuk apapun akan menimbulkan berbagai dampak negatif, kerugian, penyesalan bagi diri sendiri maupun orang lain, karena akal sehatnya telah hilang. Untuk itu, selagi masih bisa dilakukan dengan berpikir secara arif dan jernih, mengutamakan kompromi, musyawarah mencari mufakat, tentu akan lebih baik menghindari terjadinya marah justru akan lebih terhormat dan mulia. Kemarahan menjadikan peredaran darah menuju satu titik, detak jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, hal demikian tentu akan membahayakan kesehatan seseorang, maka harus segera didinginkan dan dinetralkan dengan membaca ta’awudz, membaca istighfar, mandi, mengambil air wudhu, memperbanyak baca Al-Qur’an, melakukan shalat, melakukan introspeksi, lebih mendekatkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Demikian cara Islam mengajarkan kepada ummatnya agar menahan amarah, meredam emosi, bahkan kemampuan seseorang dalam meredam emosi akan melejitkan prestasi, Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s