MENYEMANGATI TAHUN BARU 1435 H

Oleh :

Abu Zahlan Husain Vica *)

MOMENTUM tahun baru Islam memiliki nilai dan makna strategis, akan terasa sayang kalau terlewatkan begitu saja, tanpa adanya tadzkirah atau muhasabah perjalanan kehidupan diri kita dalam kurun waktu satu tahun yang terlewati. Hari yang bersejarah tersebut, sudah semestinya kita jadikan sebagai pijakan dalam melangkah untuk mengkaji ulang dawai kehidupan kita, sehingga kebermaknaan hidup dapat teraih, baik dalam kerangka kehidupan kekeluargaan, kemasyarakatan maupun kebangsaan.
Dalam terminologi yang kita pahami bahwa kata Hijrah, menurut perspektif Islam seperti tersurat dalam sabda Nabi Muhammad SAW: Seorang muslim adalah orang yang menjadikan orang-orang Islam lain selamat dari lidah dan tangannya. Dan orang yang pindah ( Muhajir ) ialah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Dari interpretasi tekstual hadits tersebut, beberapa dimensi hijrah dapat kita maknai sebagai kerelaan diri dalam meninggalkan suatu “ Prilaku buruk “ menuju prilaku yang lebih baik dan bermartabat. Hijrah juga berarti pindahnya seseorang dari satu tempat ketempat lain yang dapat memberikan secercah harapan pada masa depan seseorang.
Oleh karena itu, rasanya terlalu naif dan akan mengecilkan urgensi berhijrah manakala kata hijrah hanya dipahami sebagai pindahnya fisik, pemikiran dan perilaku seseorang dari satu tempat ketempat lain, tanpa menyentuh akar permasalahan secara gradual. Momentum hijrah semestinya mampu berkontribusi menjadi sumbu ledak yang memunculkan harapan baru, serta keberanian dalam merobah haluan hidup seseorang yang dalam kesehariannya masih sering berkutat dengan tradisi kemalasan menjadi bersemangat, memiliki etos kerja yang tinggi, serta motivasi beribadah yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Hijrah harus bermakna juga kembalinya fitrah penciptaan diri manusia itu sendiri, yakni sebagai insan yang selalu rindu akan kasih sayang Allah SWT dengan keinginan hati selalu bertaqarrub dan bermesra-mesraan kepada Allah SWT kapanpun dan dimanapun seseorang berada melalui serangkaian amal saleh serta ibadah yang diteladankan oleh rasulNya.
Saudaraku, semestinya bangsa Indonesia sebagai bangsa mayoritas berpenduduk muslim, dapat mewujutkan idealisasi dari misi suci yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pioner “ Rahmatan Lil ‘Alamin “, sehingga Islam tidak dimaknai dengan pencitraan negatif dan keliru, Islam bukanlah agama yang melegitimasi vandalisme, sadisme maupun terorisme, tetapi Islam adalah sebagai dien yang secara tegas mengutuk tindakan anarkhisme, barbar dan kesewenang-wenangan. Islam merupakan agama yang memberikan kesejukan, kedamaian, ketentraman, toleransi yang tinggi kepada sesama ummat manusia, karena Islam sangat respek terhadap ummat lain meskipun berbeda agama, suku dan ras.
Allah SWT telah berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu semua dari golongan laki-laki dan golongan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu semua saling kenal mengenal satu sama lainnya, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua adalah mereka yang paling bertaqwa kepadaKu. QS. Al-Hujuurat : 13
Saudaraku, Islam telah memberikan jalan dan bimbingan bagi perjalanan kehidupan ummat manusia, melalui serangkaian ibadah dimana waktu dan tata caranya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. Hal demikian, jika kita realisasikan bersama tentu akan memberikan kebahagiaan lahir dan bathin. Kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya akan berakhir saat ruh telah berpisah dengan raga kita, lepasnya ruh dari raga kita memberikan makna telah terbukanya babakan kehidupan baru yang sesungguhnya dan yang lebih kekal abadi, yaitu kehidupan di alam akhirat.
Tragedi yang masih sering menimpa bangsa Indonesia, misalnya tawuran pelajar, tawuran antar mahasiswa, jumlah pengangguran, perdagangan bayi, TKI diluar negeri yang bermasalah, kasus narkoba, korupsi yang menggurita maupun perbuatan kriminal dan tindakan asusila lainnya, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945 serta bertentangan dengan dogma ajaran agama yang dianut oleh masing-masing warga negara, hal demikian sebenarnya merupakan indikator dan pencerminan terkikisnya nilai-nilai ukhuwah, persatuan, nasionalisme, maupun religiusitas sebagai suatu bangsa yang mestinya tetap melekat dengan tradisi menjunjung tinggi nilai agama dan adiluhung budaya yang bermartabat.
Peristiwa hijrah seperti yang pernah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW 1435 tahun silam dapat dijadikan telaah kritis, untuk meredefinisi serta mereaktualisasi terhadap hal-hal yang sejatinya memunculkan keberanian untuk melakukan evaluasi secara totalitas dalam menghadapi carut marutnya persoalan-persoalan bangsa dan negara melalui tekad yang membaja untuk segera melakukan pertaubatan nasional.
Momentum dan semangat yang kita peringati dari Hijrahnya Nabi Muhammad SAW memiliki pemikiran jauh kedepan, yakni mengandung pembelajaran berharga bagaimana mencari tempat serta format yang sangat briliant agar dapat menemukan markas baru bagi sebuah perjuangan untuk “Tinggal landas“ bagi terwujudnya tatanan dalam mereformasi dinamika kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang tirani, menuju pembentukan dan penguatan masyarakat madani ( civil society ) yang dibangun atas prinsip-prinsip kejujuran, humanisme, kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai, tolong menolong dan tanggung jawab sebagai upaya merubah arah perjalanan sejarah kehidupan yang kelam, menuju masyarakat baru yang meninggalkan segala bentuk tradisi dan budaya-budaya korup dan jahiliyah.
Memperingati tahun baru 1435 H ini, harus melahirkan penjiwaan semangat kebersamaan dan kesadaran nasionalisme yang tinggi, bangsa Indonesia harus mau mencoba menarik benang merah urgensi peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, dimana relevansinya tidak tersekat ruang dan waktu, sebab kita tidak akan pernah memungkiri pengalaman Nabi Muhammad SAW sebagai Khotamul Anbiya Wal Mursalin yang sesungguhnya juga merupakan sumber inspirasi dan keteladanan akan tetap aktual sepanjang sejarah perjalanan kehidupan ummat manusia dalam mewariskan nilai-nilai inspiratif bagi laku-lampah kehidupan pribadi serta kesalehan sosial yang telah teruji.
Untuk itulah, momentum tahun baru hijriah yang setiap tahunnya diperingati seharusnya tetap dijadikan sebagai gerakan kongkrit yang dilakukan oleh setiap individu elemen bangsa Indonesia, tanpa terkecuali, agar mau memandang jauh kedepan sehingga mampu menempatkan dan menjadikan Indonesia kedalam keutuhan bingkai NKRI, menjadi bangsa santun, cerdas, bermartabat dan unggul dalam persaingan global.
Berkesempatan merayakan tahun baru 1435 H. sungguh merupakan karunia Allah SWT yang luar biasa. Momentum ini semestinya berimplikasi positif akan terjadinya evaluasi diri secara kaffah akan kebermaknaan kesejatian pengalaman kehidupan seseorang yang akan melahirkan sebuah kesadaran baru dalam bingkai nasionalisme religiusitas, sehingga dapat kita pahami dalam konteks kebhinekaan berbangsa dan bernegara secara utuh dan menyeluruh, yang tidak terkooptasi dengan kepentingan golongan bersifat temporal, dimana pada gilirannya nanti akan tertanam pada setiap elemen masyarakat Indonesia akan lahirnya sebuah kesadaran baru, betapa pentingnya merajut kembali simpul ukhuwah Islamiah dengan landasan yang mengkedepankan citra jalinan ukhuwah insaniah, ukhuwah bashariah dan ukhuwah wathoniyah yang akhir-akhir ini cenderung mulai terkikis dan terabaikan.
Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan kejernihan hati nurani kita dalam melihat persoalan bangsa, yang kemudian menggugah kesadaran baru bagi semua elemen dan komponen bangsa untuk berbuat yang terbaik dalam membentuk generasi Indonesia emas yang cerdas, kompetitif, dan berkarakter mulia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s