MENAKAR KOMITMEN KEISLAMAN KITA

Oleh:

Abu Zahlan Husain *)

MENTALITAS tidak punya rasa malu yang menerpa sebagian bangsa kita, tampaknya masih belum ada tanda-tanda akan berakhir.
Kecenderungan tersebut, tentu bukan merupakan sesuatu yang lepas tanpa kausalitas dari mata rantai problematika yang dihadapi bangsa Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya proses pendidikan yang berlangsung selama ini sangat terkesan, masih mengedepankan aspek prestasi dan prestise serta alergi memasuki wilayah budi pekerti, akhirnya output pendidikan bisa ditebak akan melahirkan generasi pintar namun juga pandai “ meminteri orang lain “. Intelektualitasnya melangit, akhlaqnya amburadul.
Di dalam kitab suci Al-Qur’an, Surah: Al-Ashr 1-3 disebutkan: Demi masa, sesungguhnya manusia niscaya dalam kerugian, terkecuali: orang yang beriman, orang yang gemar beramal shalih, senang menebarkan kebenaran serta berjiwa sabar.
Prof. Dr. Quraysh Shihab punya analisis tekstual-konstektual tersendiri dalam memahami firman tersebut, menurutnya agar manusia dalam menjalani kehidupan di dunia yang sesaat ini menuju kehidupan abadi ( akhirat ) supaya tidak terjerembab dalam kerugian, kuncinya adalah harus rela memeras keringat dan pikirannya secara terus menerus untuk mendapatkan keputusan yang final bagaimana seorang muslim memiliki komitmen yang tinggi dalam meng-imani-Islam, meng-ilmui-Islam, meng-amalkan-Islam, men-sosialisasikan-Islam serta tabah-sabar dalam ber-Islam.
Pertama, seorang muslim ketika menjatuhkan pilihannya untuk meyakini kesempurnaan dan keabsolutan kebenaran Islam sebagai satu sistema hidup, totalitas dari sebuah kebulatan yang mengandung nilai keuniversalan haqiqi dalam iman keyakinannya itu yang mesti dipertahankan sampai kapanpun, di samping tetap berkewajiban memelihara dan meningkatkan kualitas keimanannya.
Kedua, seorang muslim haruslah mempunyai komitmen tinggi untuk memperluas cakrawala keilmuannya, karena ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang sangat luar biasa. Untuk itulah Nabi Muhammad mewajibkan kepada ummatnya agar selalu menuntut ilmu tanpa terbatasi dengan usia, kesempatan ataupun kedudukan.
Ketiga, keimanan yang telah ada dan ilmu yang telah kita miliki tidak akan bermakna sedikitpun dalam kehidupan, kalau kita belum mengaplikasikan dalam amal nyata pada perikehidupan sehari-hari sesuai kapasitas kita masing-masing.
Keempat, nilai-nilai luhur ajaran Islam tidaklah mutlak milik kita, tetapi wajib kita sosialisasikan pada tataran yang lebih luas, baik lintas agama, lintas etnis, lintas ras dan budaya sehingga fungsi Islam sebagai rahmad bagi seluruh alam semesta betul-betul tidak hanya sebagai wacana teoritis.
Terakhir, untuk sampai pada tingkatan tertinggi dari konsepsi ajaran Islam agar bagaimana seorang muslim tidak mengalami “ kerugian “, maka dirinya dituntut memiliki komitmen sabar-tabah dalam berislam. Karena itu merupakan bagian dari sebuah konsekuensi yang harus ditanggung orang-orang yang memanfaatkan sisa kehidupannya untuk memperjuangkan tegaknya sendi-sendi kebenaran.
Semoga Allah SWT menolong kita, Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s