MASIH ADAKAH KEDZALIMAN DI ANTARA KITA?

Oleh:

Abu Zahlan Husain, *)

DALAM upaya menciptakan hubungan kesetaraan, kemitraan dan pergaulan yang harmonis antara masyarakat, berbangsa dan bernegara, Allah SWT sebagai pengatur kehidupan pada jagat raya ini, memerintahkan kepada mahluk manusia untuk berbuat adil serta menjauhkan dari kezaliman, baik kepada diri sendiri terlebih lagi kepada mahluq yang lain.
Jika kita cermati firman Allah SWT. dalam QS. Yunus: 13, nampak jelas, peristiwa sejarah yang pernah terjadi dimuka bumi ini, bahwa Allah telah membinasakan beberapa kaum sebelum kamu, tatkala mereka tengah melakukan kezaliman. Padahal Allah juga telah mengutus para Rasul yang membawa penjelasan dalam ajaran agama, tetapi mereka tetap cuek, tidak percaya, demikianlah Allah membalas terhadap kaum yang merusak itu.
Dari firman tersebut, dapat kita tarik suatu pemahaman bahwa keadilan mempunyai implikasi akan mendatangkan keridhoan Allah, sebaliknya kezaliman yang dilakukan oleh suatu kaum justru akan mendatangkan kemurkaanNya.
Menurut Hujjatul Islam, Al-Imam Al-Ghozali dalam salah satu karya monumentalnya “ Mukasyafatul Qulub “ sedikitnya ada 5 perkara yang dapat menjadi penyebab timbulnya amarah Allah, yaitu:
Pertama: Pemimpin yang suka mengebiri hak-hak rakyatnya, tidak peduli terhadap kepentingan kaum dzuafa, tetapi sangat concern membela kepentingan kaum aghniya serta membiarkan segala bentuk kezaliman meraja lela dimana-mana.
Kedua: Pemimpin yang dipatuhi oleh rakyatnya, namun dia tidak mampu memperlakukan secara adil antara yang kuat dengan yang lemah, mereka berbicara dan berbuat hanya untuk dan atas nama selera nafsunya saja. Ia lebih cenderung berpihak kepada kelompok yang memiliki status dan akses yang kuat, ia jadikan hukum bukan sebagai panglima dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, tetapi justru dijadikan sebagai alat pembenar dari perbuatan dan polecy salahnya. Ia berikan berbagai kemudahan mendapatkan tender proyek dengan berbagai transaksi politik yang dapat menopang bagi kelanggengan kekuasaannya.
Padahal pesan Rosulullah Muhammad SAW, hanyalah pemimpin yang punya kepedulian mau memperhatikan dan melakukan advokasi nasib kaum dzuafa, kaum yang selama ini termarjinalkan yang akan mencapai kemenangan sejati.
Ketiga: Suami sebagai kepala keluarga, melalaikan tugas dan tanggung jawabnya. Ia biarkan isteri dan anak-anak mereka menjalani kehidupan meski tanpa makna, ia tidak pernah menyuruh apalagi membimbing isteri dan anak-anaknya untuk selalu berlaku taat kepada perintah Allah. Rumah tangga mereka jauh dari tarbiyatul iman wal islam, tidak ada perencanaan, tidak ada kegiatan yang bernafaskan keilahian, tidak ada manajemen rumah tangga yang menyenangkan dan tidak ada pula evaluasi terhadap visi, misi dan tujuan mereka berumah tangga, hari demi hari serba monoton, tidak ada dinamika kehidupan yang menandakan semangat fastabiqul khoirot.
Keempat: Majikan yang mengekploitir karyawannya, tanpa mengindahkan hak-hak yang seharusnya dinikmati oleh para karyawan. Apakah menyangkut hak untuk meningkatkan wawasan keilmuan dengan melanjutkan study, hak karyawan dalam kesejahteraan, kesehatan, cuti, keselamatan kerja, kenyamanan, jaminan hari tua dll. Di samping itu, pemberian imbalan dan penghargaan yang wajar, layak dan manusiawi, juga tidak pernah mereka berikan. Padahal yang sedemikian itu, menurut para penggagas manajemen modern merupakan suatu keharusan yang harus dibudayakan untuk menumbuhkan etos dan kualitas kerja mereka yang lebih produktif.
Dalam salah satu pesan Nabi Muhammad Saw, “ Berilah upah sebelum mereka kering keringatnya “ pada sisi lain Islam juga sangat menganjurkan kita, untuk menunaikan kewajiban dan memberikan hak-hak orang lain, sepadan dengan apa yang mereka perbuat, syukur kalau kita dapat memberikan secara lebih, namun harus tetap proporsional dan jauh dari tendensi murahan.
Terakhir, suami yang tidak dapat memberikan nafkah lahir dan bathin secara wajar dan makruf kepada isterinya. Ia sering melukai perasaan dan hati isterinya, ia selalu menimpakan segala persoalan ketidakberesan dalam mengelola rumah tangga, sehingga isterinya pada posisi yang serba salah, meski sang isteri telah berbuat yang terbaik untuk suami dan keluarganya. Sosok suami demikian inilah yang hanya mengedepankan egoisme, ingin menang sendiri tanpa mau tau jerih payah terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan seorang isteri yang seharian penuh berjibaku dengan pekerjaan rutinitas rumah tangga yang nyaris tanpa ada hentinya. Sehingga kondisi rumah tangga tersebut, jika tidak disadari bersama tentu ibarat api dalam sekam, yang sewaktu-waktu akan mudah terbakar.
Semoga Allah SWT menghindarkan keluarga kita, dari berbagai perangai yang membuat kita menzalimi kepada diri kita dan orang lain, terlebih lagi zalim kepada Allah Robbul ‘Alamin. Naudzu Billahi Min Dzaalik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s