KEPIAWAIAN IBLIS MILENIUM

Oleh:

Abu Zahlan Husain

ALKISAH di sebuah negeri antah berantah, dulu ada seorang Raja yang memiliki seorang puteri nan elok rupawan, lenggak-lenggok jalannya, lesung pipi dan sungging senyumnya bisa membuat detak jantung lebih cepat dari biasanya, demikian pula tutur katanya meluncur dari bibir secara teratur mempesona. Disaat yang sama, hiduplah seorang laki-laki alim dan terkenal ahli ibadah (abid). Namanya saja ahli ibadah, tentu waktu demi waktu sarat dan hanya terfokus untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam rapat evaluasi mingguan, iblis berdiskusi panjang lebar. Ketua kelompok iblis menyampaikan beberapa agenda rapat, salah satunya adalah bagaimana menggelincirkan orang alim dan ahli ibadah agar jauh dari Allah SWT. Kemudian sang ketua menanyakan secara langsung kepada anak buahnya, perihal kesiapan di antara mereka yang dapat menggelincirkan orang yang ahli ibadah itu.
Salah satu iblis yang duduk di pojok ruangan dengan mantap mengacungkan jari telunjuknya. Aku saja yang akan menggoda dia, karena aku telah berpengalaman menceraikan sepasang suami istri, ucapnya meyakinkan. Kawanan iblis yang lain berkomentar, ah… itu sih persoalan bisa, sangat sepele, tanpa kamu ceraikan, toh sudah banyak juga suami istri yang bercerai, kalau nggak percaya coba lihat data statistiknya di setiap Kantor Pengadilan Agama Kabupaten dan Kodya ”.
Iblis yang lain tidak mau ketinggalan berebut proyek, sambil mengajukan konsep dan siap melakukan presentasi tentang kiat cerdas untuk menggoda manusia. Ketua kelompok iblis-pun memberikan kesempatan dan mempersilakan untuk presentasi dihadapan para anggota iblis.
Si iblis yang memenangkan tender prestesius tersebut, langsung tancap gas pergi mendatangi sang puteri raja di istana. Karena sang puteri raja hidup dalam kemewahan istana dan cenderung lupa kepada Allah, maka iblis tidak merasa kesulitan sedikitpun masuk mempengaruhi dirinya. Sang puteri yang sangat elok rupawan tadi mulai gelisah bahkan goncang hingga akhirnya sakit jiwa. Raja tentu kebingungan kemana ia harus mengobatkan puteri semata wayang yang sangat dicintainya itu.
Dengan penampilan meyakinkan iblis menyamar sebagai orang tua menemui sang raja. Ia menyarankan sang raja agar putrinya diantarkan saja kepada orang yang sangat alim dan ahli ibadah di sebuah desa. Dikatakan kepada raja bahwa sang ahli ibadah itu, karena kedekatannya dengan Tuhan telah banyak menolong mengobati orang sakit dengan do’a-doanya bisa sembuh dalam waktu yang relatif singkat. Sang raja pun sangat tertarik dengan omongan orang tua itu, tidak berpikir panjang lebar akhirnya mengirim putri kesayangannya kepada sang ahli ibadah yang tersohor itu.
Sang ahli ibadah menerima sang puteri raja tersebut, dan memohonkan kepada Allah SWT dengan doa penuh khusyu, akhirnya sang puteri pun sembuh. Kemudian sang puteri di boyong lagi ke istana oleh sang raja. Beberapa jam sesampainya di istana, iblis datang lagi untuk menggoncangkan hati puteri itu, hingga sakit jiwanya kambuh lagi. Kemudian iblis datang menyamar sebagai orang tua berkata pada sang raja, sebaiknya puteri paduka tidak dibawa pulang dulu, biarkan saja ia tinggal beberapa bulan disana agar betul-betul sembuh secara total, lagi pula putri paduka kan bisa memperdalam ilmu agamanya dengan sang alim tadi.
Sang ahli ibadah itu sangat menjaga dirinya. Ia sangat mengkhawatirkan gejolak nafsu birahinya, terlebih karena setiap hari ada puteri raja yang sangat elok rupawan dirumahnya. Akhirnya ia putuskan membangun saung tersendiri buat gadis itu. Setiap hari ia antarkan makanan dan minuman. Ia menaruhnya di luar pintu. Iblis mulai menjalankan misinya dengan cara yang sangat rapi sekali, mengapa kamu letakkan makanan itu di luar? Apa kamu tidak kuatir kalau dimakan ayam? Apa tidak sebaiknya ditaruh didalam saja sambil engkau bisa mengontrol putri sang raja, demikian bisik sang iblis.
Pasca direnungkan secara mendalam, benar juga ya. Kini setiap kali ia mengantarkan makanan, ia ketuk dulu pintu rumah, ia ucapkan salam baru masuk untuk menaruh makanan dan minumannya. Lalu iblis berbisik lagi dihatinya, bukankah berbuat baik itu harus ditunjukkan dengan sikap yang penuh ramah? Kan tidak ada jeleknya sekali-kali kamu sekedar say hello, tanyakan kabarnya bagaimana, beri ia senyuman. Bukankah semua yang kamu lakukan itu merupakan anjuran Rasulullah?. Betul juga pikirnya, sang abid.
Setelah sang ahli ibadah itu melakukan semuanya, iblis berbisik lagi. Kamu ini seorang abid dan alim, kenapa kamu tidak menanyakan kabar perkembangan kesehatannya kepada puteri itu? tanyakan apakah sudah shalat ?Bukankah itu bagus? Dan akan lebih bagus lagi, jika kamu menyempatkan diri duduk-duduk sebentar dengannya, mengajarinya ilmu-ilmu agama yang memang merupakan spesialisasi keahlianmu.
Benar juga pikirnya, gumam sang ahli ibadah. Setelah itu iblis datang lagi.
Wahai sang abid, apakah kamu tidak pernah berpikir? Bagaimana kalau ada orang lain melihat kamu ngobrol berduaan dengan seorang perempuan bukan muhrimmu di luar rumah? Tentu jelek sekali jika sampai dilihat orang lain. Nah, agar aman mengobrollah di dalam saungnya biar tidak muncul fitnah kepadamu.
Sepertinya masuk akal juga, kenapa aku tidak melakukannya? pikir sang ahli ibadah. Setelah ahli ibadah itu masuk ke dalam saung, iblis-pun masuk. Karena keelokan paras wajahnya, hati sang ahli ibadah itu mulai guncang juga, hingga akhirnya sang ahli ibadah itu terjerumus dalam kemaksiatan. Ia zinahi puteri raja itu sekali. Tadinya ia menyesal dengan penyesalan yang sangat, namun pada saat yang bersamaan iblis semakin gencar menjalankan aksinya untuk menggelincirkannya, sampai berulang-ulang sang abid melakukannya dan akhirnya sang puteri raja itu hamil.
Karena takut kedoknya ketahuan orang lain, sang ahli ibadah itu kebingungan, kemudian si iblis menakut-nakuti sang ahli ibadah. Wahai sang abid, kamu akan celaka, karena jika perbuatanmu terdengar sang raja pasti kamu akan dihukum dengan hukuman yang sangat berat. Mumpung belum ketahuan apa tidak sebaiknya sekalian kamu bunuh saja dia. Lalu kuburkanlah dia baik-baik, di kebon belakang rumahmu. Katakan saja kepada raja, bahwa puterinya meninggal karena hanyut terbawa arus sungai yang deras saat hendak mengambil air wudhu. Habis perkara kan ? bisik iblis terngiang ditelinganya.
Atas bujuk rayu iblis, maka sang puteri itu-pun ia bunuh. Pada saat bersamaan, iblis datang memberitahu raja bahwa puterinya telah dibunuh sang ahli ibadah. Akhirnya, sang ahli ibadah itu ditangkap dan dihukum. Ia disiksa dengan disayat-sayat tubuhnya di alun-alun kota untuk dipermalukan karena perbuatan bejatnya.
Dalam keadaan menjalani siksaan yang amat berat tersebut, si iblis datang lagi dan berkata kepadanya. Aku akan membebaskanmu asal kamu mau bersujud kepadaku. Bagaimana aku bersujud kepadamu sementara aku dicincang-cincang seperti ini?”, kata sang ahli ibadah. Iblis menjawab,” Niatkan saja dalam hatimu, bahwa sekarang kamu bersujud kepadaku, setelah Tuhanmu sudah tidak lagi sudi menolongmu.
Sang ahli ibadah itu-pun menurut, baiklah mulai sekarang aku bersujud kepadamu. Saat itu pula iblis berkata, sekarang aku berlepas diri darimu, sebab aku takut kepada Allah Rabbul Alamiin, sementara kamu tidak takut sama sekali akan murka dan siksaanNya.
Kemudian, sang ahli ibadah itu mati dengan tubuh hancur penuh sayatan pisau dalam keadaan musyrik, yang sebelumnya melakukan perzinaan dan pembunuhan.
Dalam kehidupan di era mellenium seperti saat ini, tanpa sadar sering kita terjebak dengan dalih menjalankan tugas sekolah, kantor, dinas, organisasi, perusahaan, misi kemanusiaan, bahkan tugas-tugas keagamaan, acapkali kita bersama lawan jenis yang bukan muhrim. Boleh jadi kita merasa sangat yakin, bahwa keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT sangat kuat dan tidak mungkin akan tergoyahkan, namun kisah di atas patut kita jadikan pelajaran berharga, jangankan kita, sang alim dan ahli ibadah pun yang menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah, malam harinya disaat manusia kebanyakan terlelap tidur dan terbuai dengan mimpi-mimpi indahnya, sementara sang abid disibukkan dengan rukuk dan sujud menghambakan diri kehadiratNya, jari-jemarinya yang tidak pernah lepas dari untaian tasbih berzikir dan mensucikan asmaNya saja masih bisa tergelincir dalam lembah kehinaan, apalagi kita.
Saudaraku, secara jujur mungkin diantara kita ( termasuk penulis ) pernah merasakan saat kita berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, meskipun mulut kita tidak berbicara, apakah menjamin hati kita juga tidak ada rasa sesuatu dengan lawan jenis yang ada didekat kita ? Sementara sikon memberikan peluang ? Nah momentum tersebut, tentu tidak akan disia-siakan oleh iblis, mereka akan membungkus aksinya dengan halus dan rapi sekali, iblis akan mulai mempengaruhi perasaan, pikiran dan hati kita, sehingga keduanya diberikan kesempatan untuk saling memandang, saling menyapa, saling berjabat tangan satu sama lain dan mulailah muncul getaran-getaran cinta diantara keduanya.
Semoga kisah inspiratif diatas, mampu memberikan pembelajaran berharga untuk kita semua, sehingga kita bisa bersikap lebih hati-hati dalam setiap pergaulan, mengarahkan dan melindungi anak-anak kita, akhirnya kita mampu memaknai sebuah arti kehidupan dengan baik dan benar di era mellenium ini dengan segala pernik-pernik dan kemasannya, namun kita tetap kukuh dalam mempertahankan ciri-ciri sebagai ummat Nabi Muhammad SAW. Serta selalu berharap ridha Allah SWT.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. 1434 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s