ISRA’ MI’RAJ KONSEPSIONAL KESEJATIAN MANUSIA

Oleh :

Abu Zahlan Husain *).

MENYOAL Isra’ Mi’raj tanpa mau menggali potensi dasar dari eksistensi babakan peristiwa tersebut secara konsepsional Qur’ani, adalah bisa menimbulkan persepsi yang variatif dan dapat menyesatkan.
Betapa tidak, karena Al-Qur’an yang diturunkan  14 abad silam telah mengenalkan kecanggihan teknologi kedirgantaraan di saat kemampuan nalar dan intelektualitas manusia belum sanggup menjangkaunya. Allah SWT. berfirman: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami; sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ( Q.S. Al-Isra : 1 ).
Saat era teknologi dan komunikasi yang belum berkembang laiknya sekarang ini, berita Isra’ Mi’raj menyembul dari lisan Muhammad SAW. sosok yang dikenal dalam kesehariannya dengan kejujuran, kearifan, tanpa ada kesengajaan untuk merekayasa, sungguh telah menghebohkan dunia. Muhammad SAW pun mendapatkan caci maki dan tantangan yang luar biasa, bahkan beberapa pengikut Muhammad memilih hengkang dan kembali pada kultur nenek moyang mereka ( murtad ), sebab informasi yang telah diberitakan Muhammad menurut mereka merupakan suatu “ Kebohongan besar “.
Ketidakpercayaan kaum musyrikin saat itu terhadap apa yang diinformasikan sekaligus dijalani Muhammad, laksana kejadian 11 September 2001 lalu, siapa yang mengira negara Adi Kuasa AS harus dipermalukan di muka dunia, yang tentu tidak ada sebelumnya seorang pun membayangkan, betapa negeri Paman Sam yang mempunyai sistem jaringan informasi komunikasi dan peralatan teknologi shopisticated, akhirnya kebobolan juga dengan ambruknya simbol-simbol keperkasaan Amerika Serikat, WTC dan Pentagon diterjang Pesawat.
Para analis pun ramai berkomentar menurut sudut persepsi masing-masing, bahkan yang lebih tragis kejadian itu sempat menyudutkan kelompok Islam garis keras “ Extrimis “ yang diotaki Osamah bin Laden.
Kita tinggalkan insiden 11 September 2001 lalu sebagai nostalgia kelabu, kita endapkan dan kita buang jauh-jauh logika yang masih terkontaminasi dengan getaran emosional, kemudian kita munculkan dialog dalam nurani, tentang kesejatian dari substansi permasalahan yang dihadapi sepanjang sejarah dan peradaban manusia, dengan mengkedepankan kata hati yang siap menjadi makmum dari konstitusi Ilahi.
Semua orang pasti yakin, bahwa seluruh agama di muka bumi ini tidak pernah satu pun yang mengajarkan destruktif bagi pemeluknya, munculnya radikalisme, ekstrimisme vandalisme pasti tidak bisa dipisahkan dari adanya benang merah peristiwa sebelumnya yang tidak mampu memberikan rasa enjoy, karena perlakuan yang tidak adil, diskriminatif, tidak beradab, penuh kedholiman dan bahkan jauh dari aspek-aspek manuasiawi yang seharusnya dijunjung tinggi dan ditempatkan pada tataran terpuji dalam bingkai pengembangan dan pengamalan keyakinan agama.
Hari-hari ini, Indonesia mendapatkan sorotan dari penjuru dunia. Negara kita yang dulu dikenal masyarakatnya dengan keramahan, sangat santun, karena berpegang teguh dengan adat ketimurannya, sekarang mendadak image dicitrakan berobah menjadi sebuah masyarakat yang garang, sadis dan tidak berprikemanusiaan. Negara kita di cap menjadi “ Sarang Terorisme “, sebuah sebutan yang sudah barang tentu sangat menyakitkan perasaan dan hati bangsa Indonesia pada umumnya dan Ummat Islam pada khususnya.
Diplomasi tingkat tinggi macam apakah yang kemudian harus dimainkan oleh para petinggi negara untuk menepis penilaian minor dan sangat merugikan tersebut, apalagi kesan yang berkembang yang dapat ditangkap oleh logika pemikiran orang awam di pinggiran seperti saya adalah, adanya ketidakkompakan dan bahkan keragu-raguan pemerintah dalam merespon tuduhan dan isu terorisme tesebut.
Tidak salah memang, kalau kemudian KH. Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum PBNU punya pendapat yang sangat menarik untuk kita simak bersama “ Mengharapkan Megawati untuk bicara adalah sama sulitnya dengan mengharapkan Gus Dur untuk tidak bicara “, sebuah pemandangan yang sangat kontradiksi dan penuh sarkasme.
Lebih keras Syaifullah Yusuf Sekjen PKB yang dulu merupakan kader PDI Perjuangan, mengeluarkan kritik tajam kepada mantan “ Bossnya “ bahwa Megawati ( pemerintah ) lamban, bahkan lembek, dalam menyikapi isu terorisme yang akhir-akhir ini menggegerkan Indonesia. Syaiful juga meminta agar segera ada sikap tegas dan penjelasan resmi, serta pemerintah harus melakukan langkah-langkah kongkrit soal terorisme, sebab tanpa itu bisa muncul sikap saling menuding dan sikap tidak sehat di kalangan bawah yang mengakibatkan terjadinya keresahan pada masyarakat ( JP: 30 September 2002 ).
Harapan masyarakat sungguh tidaklah berlebihan, agar pemerintah segera merespon isu yang memojokkan bangsa Indonesia dengan melakukan upaya-upaya yang signifikan. Sebab bisa jadi negara yang menuduh kita sebagai terorisme, sebenarnya dirinyalah teroris yang sesungguhnya, akankah kita melupakan adanya ungkapan “ maling berteriak maling “.
Isra’ Mi’raj mengajak manusia untuk mewarisi potensi dari sifat-sifat keilahian, agar kembali mau melakukan kajian ulang secara mendalam tentang hakikat kemanusiaan yang ia sandang. Sudahkah ia berbuat untuk kemanfaatan dan kemaslahatan bagi dirinya dan bagi ummat manusia dalam konteks kehidupannya. Sebab, Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah hanya untuk kepentingan diri Muhammad semata, tetapi justru Muhammad telah meletakkan landasan yang kokoh berupa sebuah “ Thoriqoh “ untuk mengantarkan keselamatan kehidupan manusia secara luas dari dunia menuju akhirat.
Secara substansial bahwa buah dari momentum Isra’ Mi’raj yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT adalah tentang pensyariatan ibadah Sholat, dimana urgensi Sholat secara terang-terangan mengandung filosofis adanya penolakan terhadap munculnya praktek-praktek kekejian dan segala bentuk kemungkaran, serta adanya ajakan dan komitmen keberpihakan kepada kaum dhua’fa.
Kalau demikian adanya, sudahkah kita berisra’ mi’raj dengan mendirikan Sholat yang sesungguhnya ?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s