HALAL BIHALAL & TRADISI MUDIK

Oleh:

Abu Zahlan Husain *)

DUA kata berangkai yang sebenarnya sama sekali tidak ada korelasinya antara halal bihalal dan tradisi mudik, penulis tidak akan menyoal perbedaan kata tersebut, tetapi hendak mencoba menarik adanya benang merah antara keduanya dari dimensi makna yang lain.

Halal bihalal bisa jadi merupakan satu istilah keagamaan yang hanya dikenal pada sebagian masyarakat, tetapi tidak dikenal oleh masyarakat yang lain, karena berpeluang akan memunculkan multi tafsir baik dari sisi kebahasaan maupun pandangan hukum Islam.

Halal bihalal yang dimaksudkan disini lebih mengarah kepada suatu bentuk ikhtiar manusia dalam rangka menciptakan keharmonisan hubungan sosial antara sesama anak keturunan adam, setelah keduanya sepakat saling merelakan, saling memaafkan kesalahan yang mungkin pernah mereka lakukan dalam kurun waktu tertentu, sehingga hubungan keduanya dari kebekuan menjadi cair, dari suasana kedengkian menuju penuh keharmonisan benar-benar bisa dirasakan.

Sementara itu, mudik dipahami sebagai pulang ke kampung halaman tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya, atau pulang kembali untuk sementara waktu ketempat yang dulu pernah mereka jadikan sebagai tempat singgah dalam kurun waktu yang lama, guna bisa bertemu kembali dengan orangtua, sanak saudara atau handai tolan. Hal seperti ini rupanya telah menjadi tradisi dari tahun ketahun yang dilakukan oleh masyarakat kita, terutama jika momentum hari raya idul Fitri maupun Idul Adha tiba.

Sedangkan Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kacamata Islam tidak diwarisi dosa apapun dan oleh siapapun. Kelahiran seorang anak, ada yang mengibaratkan sebagaimana secarik kertas putih. Dengan demikian orang tua, keluarga dan lingkungannyalah yang mestinya sangat berperan menjadikan kertas putih itu membentuk dirinya menjadi apa. Kenyataannya memang bahwa perjalanan hidup seseorang meskipun sudah berhati hati tetap tidak bisa terelakkan dari kesalahan dan dosa, karena itu perlu upaya sering merefresh pada kondisi sebagaimana asalnya, agar kesucian dapat diraih kembali.
Saudaraku, dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya, disamping dosa kepada Allah SWT. Seorang manusia manapun karena dirinya diberikan akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT, sehingga bisa saja ketika potensi hawa nafsunya lebih dominan dari pada akal sehatnya, maka dalam diri manusia akan bermunculan rasa iri, dengki, permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Kehadiran Idul Fitri merupakan momentum sangat stategis untuk saling memaafkan, merenda kehidupan yang lebih harmonis baik secara individual maupun kolektivitas setelah manusia menjalani training jasmani dan rokhani dengan berpuasa Ramadan sebulan penuh lamanya.
Tradisi saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal yang dikaitkan dengan datangnya hari lebaran Idul Fitri, meskipun sesungguhnya untuk saling memaafkan jika seseorang telah berbuat salah dan khilaf kepada yang lain, akan lebih afdhol kalau segera dilakukan saat itu juga, tanpa harus menunggu datangnya momentum Idul Fitri.
Fenomena sosial keagamaan semacam ini adalah geliat yang terjadi di Tanah Air, dan tampaknya telah menjadi tradisi pula di negara-negara sebagian rumpun Melayu. Hal ini tentu memberikan angin segar dan dampak sangat positif, karena merupakan indikator kedalaman pemahaman keilmuan dan refleksi ajaran Islam seseorang yang selalu menekankan pentingnya komitmen menjaga sikap persaudaraan, persatuan, dan saling berkasih sayang kepada sesama.
Saudaraku, makna yang lebih dalam esensi dari halal-bihalal adalah serangkaian upaya saling maaf-memaafkan kepada sesama pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran dipahami sebagai suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan suci Ramadan telah berhasil melawan berbagai nafsu syetani. Dalam konteks keduluan, kekinian dan kenantian, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah menjalani puasa Ramadan sebulan penuh lamanya, karena dilandasi keimanan dan ihtisaban untuk meraih derajat manusia taqwa yang tidak terbatasi ruang dan waktu.
Menurut ketua dewan pakar study Al-Qur’an Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Halal bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang saya ketahui, masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan sangat unik bagi bangsa Indonesia.
Sebagai sebuah tradisi khas masyarakat, apakah halal-bihalal memiliki landasan teologis? Dalam Al Qurâan, (Ali ‘Imron: 134-135) sebagai seorang muslim yang bertaqwa diperintahkan oleh Allah SWT bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan serta berbuat kebajikan terhadap orang lain.
Jika konteks ayat tersebut kita pahami, tentunya, selain berisi ajakan untuk bermaaf-maafan, halal-bihalal juga dapat berfungsi sebagai cara koneksitas antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang, serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau bisa dikatakan juga, bahwa setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun, kecuali yang makruf dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bihalal, seyogyanya tidak semata-mata dengan saling memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu lebaran, atau melalui telpon, mengirim parcel, SMS, Face Book, Blogger, Twiter, Friendster, dll. tetapi akan lebih bermakna kalau seandainya dilakukan dengan silaturrahim secara langsung penuh kehangatan, kemudian diikuti dengan perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain secara berkelanjutan.
Saudaraku, Islam adalah agama yang sangat toleran bukan sebagai agama teroris, bukan pula sebagai agama yang membenarkan terjadinya tindak anarkhis, radikal, memaksakan kehendaknya kepada orang lain, maupun main hakim sendiri, tetapi Islam mengedepankan budaya pendekatan hidup rukun, aman, tentram, damai dengan semua lintas agama. Perbedaan agama bukanlah saat melegitimasi untuk saling mencurigai apalagi memusuhinya, tetapi hanyalah sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan, Islam mengajarkan umatnya betapa pentingnya mewujudkan idealisasi prilaku seseorang yang berorientasi kepada nilai adalah jauh lebih utama demi menjunjung tegaknya supremasi hukum dan keadilan, sehingga diyakini bahwa prilaku semacam ini sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia, utamanya pada akhir-akhir ini yang mudah galau, mudah meledak emosinya hanya suatu urusan sangat sepele, sehingga akan mampu mentranformasi seolah-olah hidup di bumi Indonesia selaksa hidup di surga.
Saudaraku, berpijak dari esensi halal-bihalal dan tradisi mudik seperti tersebut di atas, maka pesan moral secara universal yang dapat kita tangkap sebagai jalinan yang sangat indah adalah adanya benang merah untuk selalu menjaga tali silaturrahim, perintah untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, suka tolong menolong, mudah memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang kepada sesama, hendaknya tetap menjadi kultur yang khas bagi masyarakat Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya, sehingga akan memperkukuh icon Islam di bumi pertiwi Indonesia ini, adalah benar-benar sebagai cerminan yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat yang mampu memberikan kesejukan, kedamaian, kenyamanan, keselamatan dan pengayoman kepada masyarakat pemeluk agama minoritas, sehingga Islam sebagai agama rahmatan lil âalamiin benar adanya dan tidak terbantahkan.
Saudaraku, akhirnya selamat bermudik ria, selamat menjadi pemenang, selamat sampai tujuan mohon maaf lahir dan bathin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s