DEMI JIHAD RELA TINGGALKAN MALAM PERTAMA

Oleh:

Abu Zahlan Husain

SAAT itu kota Madinah dinyatakan dalam keadaan emergency, karena sewaktu-waktu perang akan meletus. Umat Islam telah mencium gelagat dan kasak kusuk tersebarnya berita akan terjadinya perang, karena pasukan Abu Shufyan rupanya telah siap siaga dengan berbagai perlengkapan perangnya. Dalam kondisi seperti itu, seorang sahabat, bernama Hanzhalah, dengan penuh ketenangan dan keyakinan justru hendak melangsungkan pernikahan.
Hanzhalah pemuda yang tampan rupawan menikahi Jamilah wanita berparas cantik jelita, berpostur tubuh semampai dan berakhlaq sangat mulia, di malam yang keesokan harinya meletus perang Uhud. Handzalah mendatangi Rasulullah Muhammad SAW demi mendapatkan izin beliau, untuk diberikan kesempatan berhoneymoon bersama istrinya tercintanya terlebih dahulu. Nabi Muhammad SAW pun mengiyakannya.
Ketika peperangan telah berkecamuk, tak seorangpun tahu akan nasib yang akan terjadi di medan laga, termasuk bagi pengantin baru seperti Hanzhalah. Karena itu, ia memanfaatkan waktu berbulan madu, memadu kasih sepenuh hati dengan belaian jiwanya.
Tatkala tubuh Hanzhalah dan istrinya bermandikan keringat malam pertama, sungguh di mata pengantin baru ini, dunia seolah-olah hanya menjadi milik berdua. Memadu segenap cinta dan kasih sayang di penghujung waktu yang tersisa. Kamar pengantin baru didesain dengan berbagai assesoris hiasan yang ditata sangat apik dan indah, disertai aroma wewangian bunga-bunga segar menjadikan suasana bertambah hangat dan syahdu, tatapan istri yang memikat nyaris membuat Handzalah terasa amat berat untuk melangkah. Namun, saat fajar menjelang, panggilan jihad pun datang berkumandang…“Hayya ‘alal jihad, hayya ‘alal jihad…!!!”
Genderang perang itu bertalu-talu, terdengar begitu lantang suaranya. Hanzhalah terbangun dari pelukan yang penuh kehangatan dari sang istri. Kemudian bergegas menyahut Zirah (Seragam perang) yang ditaruh didinding, pedang pun disematkan dipinggangnya. Sesaat kemudian, ditatapnya wajah sang istri dengan penuh rasa cinta, dari sinar matanya Handzalah terbaca tampak berharap kerelaan dan keikhlasan sang isteri agar mengizinkan berangkat jihad, memenuhi panggilan suci.
Wajah bahagia itu diusapnya berkali-kali, belaian tangan menyapu rambut Jamilah yang panjang menjuntai dengan disertai beberapa ciuman hangat mendarat di keningnya. Satu tarikan nafas panjang terdengar kata-kata sayang…, izinkan kanda untuk berangkat jihad ya…Bismillahirrohmaanirrohiim mengiringi Hanzhalah pamit ke medan perang.
Sungguh, jika bukan karena ghirah yang membuncah di dada Handzalah, takbir perang itu tak mungkin akan disambutnya, ia tentu akan memilih untuk larut menghabiskan seluruh malam pertama dengan isteri tercintanya. Tetapi, Handzalah memilih panggilan suara jihad itu laksana pekik surgawi yang lama telah dinanti.
Dengan linangan airmata sang istri seolah-olah tak rela melepas kepergian kekasihnya, Hanzhalah bergegas bergabung ke medan perang. Sang istri sungguh mengerti. Di atas mahligai suci perkawinan mereka, cinta kepada Ilahi dan Nabi Muhammad SAW menyisihkan cinta diatas segalanya. Ditatapnya punggung Hanzhalah yang tertutup zirah untuk terakhir kalinya. Bibirnya lirih berzikir, “Yaa Allah, Ya Rohman, Ya Rohiim, Ya Mutakabbir, sambutlah suamiku dengan iringan takbir!”
Betapa gagah perkasanya Hanzhalah di medan Uhud. Ayunan pedangnya deras berkelebatan menebar musuh-musuh Islam. Lihatlah! Wajah Hanzhalah bersinar cemerlang, raut kebahagiaan terpancar di parasnya.
Seolah wajah ceria itu berkata, “Istriku ridha dengan kepergianku!” Tatapan matanya sungguh meruntuhkan nyali orang-orang kafir Quraisy. Di sela-sela pekik takbir yang bersahutan, tubuh dan zirah perang Hanzhalah, basah oleh keringat. Keringat bulan madu semalam, tiada artinya dengan keringat jabal Uhud.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, berhasil menelikung gerakan Hanzhalah. Ia berhasil menebas tengkuknya dari belakang. Darah pun menyemburat. Tubuh gagah dan perkasa itu pun terjatuh menimpa tanah pasir bebatuan.
Luka-luka di sekujur tubuhnya begitu parah. Hujan tombak dan panah dari segala penjuru menorehkan syahid di tubuh yang basah kuyup itu. Para sahabat yang berada di sekitar dirinya bergegas memberikan pertolongan, namun sayang semuanya terlambat. Selang beberapa lama saat kecamuk perang sudah mulai surut, karena luka yang teramat sangat Hanzhalah gugur sebagai syuhada di medan Uhud. Jasadnya terkulai lemah. “ Innalillahi wainna ilahi rojiun “.
Dari jarak kejauhan terlihat semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa menembus air hujan.
Tubuhnya terangkat dan terbolak-balik seolah air hujan hendak membasahi sekujur tubuhnya. Kilauan cahaya putih membias di sela-sela guyuran hujan. Akhirnya, hujan mereda. Cahaya terang mulai menghilang. Tampak iringan kemilau cahaya putih melesat ke langit. Tubuh Hanzhalah kembali turun ke bumi.
Subhanallah! Hujan lokal deras mengguyur Hanzhalah? Para sahabat yang menyaksikan basahnya tubuh dan zirah perang Hanzhalah, semuanya takjub merasa keheranan. Mereka lantas membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw. Diiringi wajah para sahabat yang penuh tanda tanya, Rasulullah SAW meminta agar Jamilah istri Hanzhalah segera dihadirkan.
Begitu tiba di hadapan Nabi Muhammad SAW, beliau bercerita tentang Hanzhalah. Kepada janda Hanzhalah, Nabi bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang Uhud?”
Jamilah tertunduk, rona pipinya merah bersemu. Dengan senyum tipis mengembang penuh rasa malu, ia berkata: “ Ya Rasulallah, suamiku Hanzhalah, pergi jihad di jalan Allah dalam keadaan junub dan ia belum sempat mandi”.
Rasulullah kemudian menyampaikan kepada semua yang hadir. “Ketahuilah wahai sahabatku semuanya. Jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istri Hanzhalah dari kalangan bidadari yang datang menjemput. Para bidadari berkata; “Wahai Hanzhalah, duhai suami kami tercinta. Sungguh, kami telah lama menunggu pertemuan seperti ini. Mari kita ke peraduan.”
Saudaraku, Hanzhalah memilih dengan tepat tatkala seruan perang melawan kebathilan merampas bulan madunya, ia bergegas menyambutnya. Kata yang keluar dari bibirnya adalah “ sami’na wa atha’na “ (kami dengar dan kami patuh). Sungguh, ganjaran berupa surga dan bidadari yang lebih cantik jelita, adalah merupakan sebuah janji abadi dari Ilahi bagi para pecinta sejati.
Saudaraku, pejuang sejati tentu dapat memilah dan memilih, mana yang harus diutamakan dan mana yang harus dinomorduakan. Pejuang sejati berjuang untuk membela suatu kebenaran hakiki yang datangnya dari Allah SWT. Dan sanggup mencampakkan kebenaran yang sifatnya semu, karena banyaknya rekayasa dan campur tangan kepentingan nafsu manusia.
Kisah diatas, mudah-mudahan bisa memberikan inspirasi segar dan cerdas kepada kita semua, sehingga apapun pekerjaan dan profesi kita, apapun tugas dan tanggung jawab serta kapasitas kita, kita dapat memberikan konstribusi terbaik dan spirit yang terus menyala-nyala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s