CD YANG MENGANTARKAN MASUK ISLAM

Oleh:

Abu Zahlan Husain *)

FENOMENA seseorang mendapatkan hidayah ( petunjuk ) dari Allah SWT yang akhirnya berkenalan dan masuk Islam memang beragam sekali, ada yang karena mengkaji literatur-literatur keislaman, ada yang melakukan penelitian, dialog, pengembaraan, mendengar alunan suara adzan ataupun ayat-ayat Al-Qur’an, ada juga yang disebabkan pasca mendapatkan musibah, ada yang karena pergaulan, mimpi, jodoh dan tentu masih banyak lagi faktor yang melatar belakanginya.
Judul diatas kelihatannya tabu, bahkan sebagian orang mungkin menganggapnya lugu ( Jawa: lucu tur wagu ), kalau CD yang dimaksud adalah “Corps Diplomatique“ tentu sudah biasa didengar. Namun, CD yang penulis maksudkan disini agak sedikit jorok maaf yaitu, “ Celana Dalam “.
Saudaraku, hidayah memang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Selama ini kita lebih sering mendengar masuk islamnya seseorang dari agama lain lebih disebabkan karena hal-hal yang luar biasa dan penting. Seperti dokter Miller seorang penginjil Kanada yang masuk islam setelah menjumpai kemukjizatan Al-Qur’an dari berbagai segi. Tetapi yang satu ini memang benar-benar tidak biasa. Ya, karena masuk islamnya terkait soal yang sepele bahkan tabu, celana dalam !.
Fakta ini dikisahkan oleh Prof. DR. Sholeh Guru Besar di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat dia ditugaskan ke Inggris. Ada seorang perempuan tua yang biasa bekerja sebagai tukang laundry para mahasiswi Inggris termasuk pakaian dalam mereka.
Sungguh, tidak ada sisi yang menarik pada diri wanita ini, keadaanya tua renta, buruh rendahan dan hidup sebatang kara. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usia sangat udzur. Di Inggris dan di negara belahan Eropa masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Tentu saja keadaan seperti ini bagi kita sebagai pemeluk Islam bisa dibilang dzalim dan tentu tidak pantas, memperlakukan orang tua yang berjasa melahirkan dan membesarkan kita. Tetapi, kondisi tersebut harus diterima kebanyakan orangtua di Eropa, para orangtua pun dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi demikian, sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan mencuci pakaian kotor.
Wanita senja itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai tukang laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada lembaga yang bersedia mempekerjakan para manula.
Orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diriku sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak terkadang menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kesibukan sendiri untuk mengisi masa tuaku, kilahnya.
Mereka memang bukan untuk bekerja yang berat, tetapi setidaknya selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik dari pada harus tinggal diam di panti jompo, ucapnya lagi dengan wajah penuh kegalauan.
Sedih memang kalau harus tinggal sendirian, seperti temanku yang lain. Dia juga dulu bekerja sebagai tukang laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya lagi, demikian bibi bercerita.
Bagi sang Bibi profesinya sebagai tukang laundry justeru membuatnya mengenal lebih dekat dengan liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswi dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswi yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing “mencari hiburan”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang santai untuk nonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga.
Salah satu sisi negatif pergaulan adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasanya mereka sampai teler. Dan dapat dibayangkan kekacauan apa yang terjadi. Muntah merata di sembarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan hina akibat minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).
Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing. Tinggallah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan pemiliknya, jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dijalaninya dengan penuh dedikasi tinggi walau di penghujung usianya yang semakin renta.
Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa bergelut dengan pakaian kotornya. Idealnya di penghujung usianya itu, seharusnya dia menikmati hasil kerja di masa mudanya. Namun situasilah yang memaksa dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun, ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.
Entah sampai kapan dia harus menjalani pekerjaan itu. Sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswi muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.
Bagi kebanyakan Mahasiswa Timur Tengah sangat jarang memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung Mahasiswi senegaranya. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan apartemen mereka dikelola dan disewakan.
Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama.
Hidup dalam komunitas non muslim, justeru dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang kaffah sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan sebagai muslimah yaitu kesalehan sosial.
Hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang digelutinya. Sampai-sampai dia hafal ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswi dari Timur Tengah tadi. Namun saat melakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang janggal, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslimah Arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak bau, tidak kumuh dan tidak banyak noda yang melekat.
Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Alhasil tukang laundry di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, semua pakaian dalam mereka selalu tidak bau.
Masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan pemilik celana dalam itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, Kami selalu istinja setiap kali kencing. Pencuci baju ini bertanya lagi, apakah itu memang diajarkan dalam agamamu? Ya ! Jawab dua orang Mahasiswi muslimah tadi.
Merasa belum yakin betul dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang dengan malu-malu menemui tokoh muslim yaitu Prof. DR. Sholeh, saat ditugaskan ke Inggris. Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama melaundry perihal adanya pakaian dalam yang aneh.
Ada pakaian dalam yang tidak bau seperti kebanyakan mahasiswi umumnya, apa sebabnya? Maka Guru Besar ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslimah, Islam mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak memperhatikan dalam masalah seperti ini.
Betapa terkesan Bibi ini, jika untuk hal yang kecil saja Islam sangat perhatian apalagi untuk hal yang besar, pikir pencuci pakaian kotor itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan celana dalam.
Maka gemparlah para mahasiswi yang tinggal di asrama tersebut, yang mayoritas adalah non muslimah. Mereka penasaran ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslimah ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Subhanallah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s