Blusukan Ala Khalifah Umar dan Jokowi

oleh:
Abu Zahlan Husain *)

BLUSUKAN, sebuah kata asli serapan dari bahasa Jawa. Istilah blusukan diambil dari blusuk dan blesek yang memiliki arti “ masuk “. Kalau orang menulis kalimat berbunyi “Kopyahe Diblusukake” atau “Diblesekake ing sirahe”, maka itu berarti Kopyahnya orang itu dimasukkan ke dalam kepalanya.
Bila orang mengatakan bahwa perjalanannya keblusuk-blusuk, itu berarti bahwa orang itu dalam perjalanan sampai masuk ke tempat-tempat yang dia tidak kenal sebelumnya, atau dia sebenarnya sudah pernah melakukan perjalanan kedaerah itu tetapi saking lamanya tidak berkunjung kesana, maka ia merasa asing dengan daerah itu, akhirnya dia lupa dan keblusuk kesana kemari, blusukan disini mereka jalani sesungguhnya dalam rangka usaha mencapai tempat yang mau dia tuju.
Sedangkan kata blusukan sejatinya menunjuk pada laku berkelana masuk sana masuk sini, sekedar untuk mengenal suatu keadaan atau kondisi suatu tempat secara alami atau secara kultural. Dengan arah dan tujuan yang lebih luas serta lebih dalam secara kultural, berkelana mengandung maksud nguri-uri martabat luhur dan keselamatan manusiawi, dalam rangka menemukan apa yang perlu dsingkirkan atau ditinggalkan, apa saja yang masih harus dipertahankan dan bahkan perlu diberdayakan.
Blusukan juga dipakai dalam suatu ungkapan orang berkelana ke tempat-tempat yang disinyalir memendam masalah yang belum terselesaikan. Maksud orang berkelana yang berdimensi transendental biasanya bernuansa neges kersaning jawata atau memperjelas kehendak Ilahi; untuk mengetahui keadaan, suasana alam atau masyarakat yang ada. Mengenalnya, bukan hanya dari kulit luarnya, tetapi mengenal untuk merasuki, melibati seoptimal mungkin, yang pada akhirnya bisa melayani untuk membantu mencarikan jalan keluar dari segala problema yang melibatkan kepentingan dan hajat hidup orang banyak.
Akhir-akhir ini, kata blusukan sering muncul menghiasi media cetak maupun elektronik dikaitkan dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, baik pejabat publik semisal bupati, gubernur, menteri hingga presiden. Bahkan, tidak mau ketinggalan para anggota legislatif juga memanfaatkan waktu resesnya untuk blusukan dari satu kampung ke kampung lain dalam rangka serap aspirasi, sekaligus sebagai media konsolidasi untuk menyapa para konstuennya ditingkat akar rumput. Intensitas blusukan ini akan semakin sering dilakukan, ketika menjelang pelaksanaan pilbub,pilgub, pileg maupun pilpres.
Terlepas apa motif sebenarnya dibalik aktivitas blusukan yang dilakukan, apakah memang bertujuan untuk segera dapat menemukan jawaban dalam mengurai akar persoalan dilapangan, serap aspirasi, atau sekedar pencitraan demi mendongkrak popularitas rating dalam survey, penulis sama sekali tidak pernah galau apalagi merisaukannya, sepanjang blusukan itu bisa memberikan manfaat secara timbal balik yang bernilai positif, baik kepada orang yang sering blusukan maupun kampung masyarakat yang sering dijadikan sebagai tempat blusukan.

Adalah Joko Widodo gubernur terpilih DKI Jakarta yang menumbangkan rivalnya Fauzi Bowo gubernur Incumben dalam Pilgub 2012 dan ketika ikut Pilpres 2014 tampil sebagai pemenang mengkandaskan Prabowo, lagi-lagi magnit Jokowi terasa menyedot rakyat, Jokowi setidaknya termasuk publik figur yang berkonstribusi mencuatkan istilah blusukan dengan style kepemimpinannya yang sering terjun kebawah melihat secara langsung ke lokasi “ bermasalah “ untuk mendapatkan fakta paling aktual dilapangan, serta mendapatkan solusi yang tepat, cepat dan akurat. Figur semacam Jokowi, Dahlan Iskan, Yusuf Kalla, Syaifullah Yusuf, sepertinya bukan type pemimpin yang mengandalkan laporan dari anak buah yang biasanya ada kecenderungan memberikan laporan ABS ( asal bapak senang ).

Kepemimpinan dengan style blusukan seperti ini, memang keluar dari pakem aturan protokoler, dulu ketika dizaman pemerintahan orba diberlakukan sangat ketat, berlapis dan terkesan sangat berlebih-lebihan. Namun, memasuki era reformasi ketika Gus Dur jadi Presiden istana negarapun tidak lagi menjadi tempat yang stiril, jauh dari kesan sakral, siapa pun boleh keluar masuk dengan aturan yang super longgar.

Dalam sejarah Islam, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang sangat fantastis, beliau dinobatkan oleh Allah SWT sebagai sentral uswatun hasanah dalam setiap aspek kehidupannya tanpa tersekat ruang dan waktu, agar ummatnya selalu meneladaninya. Untuk itu, tidak mengherankan kalau hasil dari penelitian ilmiah orientalis bernama Michail Hart dalam bukunya yang telah diterbitkan edisi bahasa Indonesia dengan judul “ Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia “, menempatkan sosok kepemimpinan Nabi Muhammad SAW pada peringkat 1, diantara seratus tokoh-tokoh pemimpin di dunia yang tergolong sukses luar biasa menjalankan misi kepemimpinannya.

Pasca kepemimpinan Rasulullah SAW, dilanjutkan dengan kepemimpinan Khulafaur Rosyidun mulai sahabat Abu Bakar Assiddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Afwan dan Ali Bin Abi Tholib nyaris memiliki style kepemimpinan yang hampir sama dengan Rasulullah SAW.

Salah satu contoh kepemimpinan Umar bin Khattab telah banyak memberikan inspirasi kepada pemimpin-pemimpin dunia sesudahnya, termasuk para pemmpin kita yang pernah mempelajari sejarah kepemimpinannya. Umar sering melaksanakan kegiatan mengunjungi rakyat di pasar dan rumah-rumah rakyat mereka secara langsung. Saat mengunjungi
rakyatnya, Umar bin Khattab tidak pernah membawa ajudan, apalagi pasukan pengawal ( paspampres) untuk mengawalnya karena dalih keamanan dan keselamatan.

Umar bin Khattab pernah melakukan perjalanan bersama pembantunya, dengan 1 unta yang ditunggangi secara bergantian. Saat giliran pembantunya naik unta, mereka tiba di kota tujuan, dan para penduduk mengira bahwa pembantunya adalah Khalifah Umar.

Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab, naik mimbar dan berkata, “Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?” Seorang sahabat menghunus pedangnya. lalu, sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata, “Kami akan melakukan ini.” Umar bertanya, “maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?” Orang itu menjawab, “Ya!” lalu Amirul Mukminin berkata, “Semoga Allah memberimu rahmat! Alhamdulillah, yang telah menjadikan di antara rakyatku ada orang yang memiliki keberanian apabila aku menyimpang dia akan meluruskan aku.”

Dilain kesempatan lain, Umar bin Khattab rmendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. ia segera menulis surat teguran kepadanya dengan kata-kata sebagai berikut: “Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau hal itu benar, maka segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar, lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”

Kejadian yang tidak kalah menariknya dapat kita simak, pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang tergolong kaya raya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya, “mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana saja?” Umar menjawab, Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.”

Demikian pula, ketika Umar berpidato di hadapan para gubernur, Khalifah berkata: “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani rakyat. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.”
Pada saat pengangkatannya, seorang gubernur harus menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa “Dia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.”

Sang Khalifah memang sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan karena rasa lapar yang sangat. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia membohongi menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang dimasak. Tanpa menunjukkan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya.

Menjelang akhir kepemimpinan khalifah Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu wahai amirul mukminin telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah! Semoga kita diberikan kekuatan dan kesabaran dapat meneladani kepemimpinan Umar bin Khattab “ Sang Pemimpin yang Mempesona “ dalam setiap kesempatan. Amiiin

Semoga tulisan ini dapat memberikan tambahan inspirasi, motivasi untuk Pak Jokowi dan Pak JK dalam memimpin dan membangun negeri kita menuju NKRI yang lebih baik, bermartabat, kompetitif, berkeadilan dan berkemakmuran.

Selamat Bekerja dan Sukses Selalu Pak Jokowi-JK smg Allah SWT senantiasa memberikan limpahan rohmad, hidayat, kesehatan, kekuatan dan kearifan dalam memimpin Rakyat Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s