Belajarlah Berenang, Berkuda dan Memanah

Oleh:

Abu Zahlan Husain Vica *)

RASULULLAH SAW, memerintahkan kepada umatnya, yaitu kepada para orang tua yang memiliki anak tanpa membedakan gender hendaknya mengajarinya berenang, berkuda dan memanah. Intruksi tersebut patut mendapatkan apresiasi positif, karena kita harus yakin bahwa setiap apa yang disampaikan oleh baginda Rasulullah SAW pasti mengandung pesan pembelajaran yang mendatangkan berbagai kebaikan, keutamaan dan hikmah yang tersembunyi.
Di kesempatan yang lain nabi Muhammad SAW juga menyatakan bahwa, seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, dari pada seorang mukmin yang lemah. Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam Zaadul Maadnya Juz 3 mengatakan “Bagian organ mana saja yang banyak digerakkan maka akan kuat. Misalnya, siapa yang banyak menghafal maka akan kuat hafalannya, siapa yang banyak berfikir maka akan kuat kecerdasan fikirannnya. Setiap organ tubuh memiliki organ yang khusus. Adapun menunggang kuda, memanah, bergulat, dan lomba lari adalah olah raga fisik, akan tetapi juga memiliki pengaruh bagi perkembangan mental dan jiwa seseorang”.
Dalam upaya mendapatkan kekuatan fisik, menjaga kebugaran tubuh, Islam sangat menganjurkan berolahraga, istirahat yang cukup dan mengatur pola mengkonsumsi makanan dan minuman, untuk memperoleh kekuatan ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera Islam menganjurkan umatnya bekerja keras, untuk memiliki wawasan keilmuan yang luas dan mendapatkan derajat yang mulia, maka hendaknya dengan belajar secara sungguh-sungguh, untuk mendapatkan kemantapan keimanan dan ketaqwaan, Islam menganjurkan umatnya agar senantiasa tafaqquh fiddin dan mengamalkan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh dan konsekwen.
Jika kita sinergikan antara hadits yang pertama dan kedua, maka sebenarnya kita telah mendapatkan gambaran tentang apa yang diinginkan oleh baginda Nabi. Islam merupakan satu-satunya agama samawi yang ajaran-ajarannya paling sempurna, Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi-Nya, Islam sangat mengedepankan adanya keselarasan, keseimbangan dan keharmonian. Yang dimaksud keseimbangan disini tentunya adalah menyangkut keharmonian antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rokhani, keseimbangan antara hak dan kewajiban, keselarasan antara tanggung jawab dan imbalan, keselarasan antara pemenuhan kebutuhan kehidupan di dunia dengan kehidupan di akhirat kelak.
Saudaraku, kemudian apa makna tersirat tentang ketiga perintah pada hadist diatas?. Ketiga hal tersebut, jika kita pahami sejatinya berkenaan dengan konsep pendidikan yang meliputi prinsip kehidupan manusia dalam konteks keduluan, kekinian maupun kenantian, yang membutuhkan daya nalar kritis kita. Bayangkan saja ketika Nabi SAW menyuruh umatnya untuk belajar tentang berenang, padahal kita tahu bahwa negeri Makkah dan Madinah tempat domisili Nabi bukanlah terdiri dari sebuah sungai, danau atau lautan yang memungkinkan seseorang untuk bisa belajar berenang. Akan tetapi mengapa justru Nabi SAW memerintahkan umatnya agar mau belajar berenang ?
Kedua, perintah untuk mengajarkan kepada putra-putri kita agar belajar berkuda, padahal realitas yang ada berdasarkan histori di era Nabi, kuda bukanlah hewan tumpuan utama masyarakat arab. Kondisi geografis disana tidak memungkinkan hewan seperti kuda mampu bertahan dengan kondisi alam dan suhu panas yang ekstrim. Kenyataan yang ada sepertinya hanya unta yang mampu bertahan hidup di padang pasir atau pegunungan yang kering kerontang, sehingga hewan ini pula yang mampu bertahan hidup di daerah arab. Lalu mengapa juga justru nabi memerintahkan kepada umatnya untuk belajar berkuda?
Ketiga, ajarilah anak-anakmu memanah. Kalau kita telisik lebih dalam lagi bukankah kita mengetahui bahwa profesi memanah merupakan karakter yang lazimnya digemari di dunia perburuan suku-suku pedalaman, khususnya dalam berburu burung atau binatang lain yang ada di hutan belantara. Lalu mengapa pula Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk belajar memanah di daerah padang pasir dan pegunungan yang jarang terdapat burung dan binatang buruan?
Saudaraku, langkah bijak yang harus kita kedepankan dalam menilai persolan di atas adalah agar kita jangan apriori dulu, Muhammad SAW bukanlah diutus untuk menjadi Nabi hanya bagi masyarakat di jazirah arab semata, tetapi beliau diproyeksikan oleh Allah SWT untuk mendakwahkan ajaran-ajaran agama Islam yang disampaikannya untuk umat manusia bagi seluruh penjuru dunia sebagai rahmatan lil ‘alamiin.
Lalu apa sebenarnya makna dibalik ketiga perintah Nabi Muhammad SAW tersebut? Pertama, berenang, karakter orang yang sedang belajar berenang adalah belajar menjaga keseimbangan dan gerak tubuh, jika seorang yang berenang tidak mampu menjaga keseimbangan tubuh, karena takut dengan air misalnya atau berhenti bergerak, dipastikan akan tenggelam. Begitu pula jika kita menjalani kehidupan ini, kita dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan, keserasian, keharmonian, keberanian dan selalu bergerak dalam menyongsong kehidupan kini dan nanti. Sebab, hidup itu harus dinamis tidak statis, hidup itu penuh tantangan maka harus dihadapi, hidup itu adalah sarat dengan kompetisi sehingga hanya orang yang lebih siap, yang akan menjadi pemenangnya, Islam menganjurkan ‘Fastabiqul Khoirot’ berlomba-lombalah dalam kebaikan.
Kedua perintah berkuda, olahraga berkuda merupakan salah satu olahraga yang menggabungkan antara emosional, intelektualitas dengan kekuatan fisik. Jika kita cermati sesungguhnya olahraga berkuda membawa pesan pembelajaran yang sangat berharga, para penggembala hewan, tentu mereka akan mengenal betul karakter dari masing-masing jenis hewan, dan diantara beberapa hewan yang sulit digembalakan adalah kuda. Karena kuda secara rasio adalah termasuk hewan liar yang tidak bisa dibohongi dan untuk menjinakkan diperlukan kiat dan kelihaian secara khusus.
Pada umumnya karakter manusia terdapat kecenderungan hanya mau dimobilisir atau dipimpin jika yang menggerakkan itu berada di depan, memberikan keteladanan terlebih dahulu. Maka jangan heran jika Nabi SAW dalam kepemimpinannya beliau berpesan Ibda’ binafsik, mulailah dari dirimu sendiri, beliau juga selalu tampil sebagai figur uswatun hasanah bagi umatnya dalam setiap momentum dan kesempatan.
Pesan moral yang terkandung dalam perintah berkuda ini adalah, perintah untuk membekali anak kita tentang manajemen kepemimpinan, seperti yang dikatakan oleh Kihajar Dewantara dengan konsepnya “ Ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani “. Adalah sangat tidak etis, jika kita mengajak orang dengan manajemen bebek, manajemen jari telunjuk, atau manajemen juragan, namun cobalah sepertinya sudah saatnya memposisikan diri kita berada didepannya atau berdampingan dengan orang-orang yang kita pimpin, seraya memberikan contoh yang kongkrit.
Pembelajaran ketiga yaitu, ajari anakmu memanah, memanah sangat membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, ketenangan emosi, keseimbangan, kekuatan untuk dapat melesatkan anak panah dan membidik suatu sasaran dengan tepat dan akurat.
Itulah ketiga prinsip-prinsip yang akan mengantarkan kesuksesan kita semua, dalam mengarungi hidup dan kehidupan yang disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad SAW kepada ummatnya, insya Allah selagi kita semua sebagai ummatnya tetap istiqomah berpegung teguh kepada Al-Qur’anul karim dan sunnahnya kita akan selamat, bahagia dan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Amiiin.

Iklan

2 pemikiran pada “Belajarlah Berenang, Berkuda dan Memanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s